Update Harga Batu Bara Menguat di Tengah Dinamika Pasar Energi Asia
- Jumat, 06 Februari 2026
JAKARTA - Pergerakan pasar batu bara Asia menunjukkan kecenderungan menguat ketika pelaku pasar mulai mengantisipasi ketidakpastian pasokan.
Kondisi ini muncul seiring perhatian terhadap kuota produksi Indonesia yang lebih rendah dan berdampak pada strategi pembelian. Situasi tersebut mendorong sikap waspada, terutama pada segmen batu bara berkalori rendah dan menengah.
Harga Batu Bara Menguat, Kuota Produksi RI Picu Ketidakpastian menjadi gambaran utama sentimen yang berkembang di pasar. Aksi beli defensif terlihat semakin dominan ketika pembeli berupaya mengamankan pasokan lebih awal. Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko gangguan pasokan dalam beberapa bulan mendatang.
Baca JugaPertamina Tambah Pasokan Gas LPG 3 Kg di Bone Dukung Kebutuhan Masyarakat
Pasar menilai bahwa ketidakpastian pasokan berpotensi membentuk pola harga yang lebih stabil namun cenderung menguat. Fokus tidak lagi semata pada fluktuasi harian, melainkan pada ketersediaan fisik batu bara. Perubahan perspektif ini menjadi dasar strategi pengadaan baru di kawasan Asia.
Pergerakan Harga Kontrak Global
Di pasar kontrak, harga batu bara Newcastle menunjukkan pergerakan yang bervariasi antar bulan pengiriman. Kontrak Februari 2026 mengalami penurunan tipis ke level US$ 116 per ton. Sementara itu, kontrak Maret 2026 justru naik ke posisi US$ 117,6 per ton.
Kontrak April 2026 juga mengalami kenaikan meski terbatas dan berada di kisaran US$ 117,15 per ton. Perbedaan arah pergerakan ini mencerminkan penyesuaian pasar terhadap prospek pasokan jangka pendek dan menengah. Investor mencermati keseimbangan antara permintaan regional dan ketersediaan ekspor.
Di Eropa, harga batu bara Rotterdam mencatatkan kenaikan yang lebih terasa. Kontrak Februari 2026 melonjak ke level US$ 100,2 per ton. Kenaikan ini berlanjut pada Maret 2026 dan April 2026 meskipun dengan besaran yang berbeda.
Respons Importir dan Produsen
Importir utama di Asia mulai mempertimbangkan alternatif pasokan sebagai langkah antisipasi. Kekhawatiran muncul apabila pembatasan produksi Indonesia berlanjut dan berdampak pada volume ekspor. Situasi ini memicu pergeseran strategi pembelian di kalangan konsumen besar.
Di sisi produsen, beberapa perusahaan tambang menahan penjualan spot ke pasar internasional. Langkah tersebut dilakukan setelah adanya pemangkasan kuota produksi yang jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Keputusan ini memunculkan spekulasi mengenai potensi pengetatan ekspor dalam waktu dekat.
Produsen juga menilai pemangkasan produksi yang terlalu tajam berisiko mengganggu operasi. Risiko tersebut mencakup penghentian kegiatan tambang dan pelanggaran kontrak jangka panjang. Selain itu, ketidakpastian berpotensi merusak kepercayaan investasi di sektor batu bara nasional.
Tren Ekspor dan Segmentasi Kalori
Kinerja ekspor batu bara termal Indonesia sepanjang 2025 mengalami penurunan signifikan. Total ekspor tercatat menurun secara tahunan menjadi 364,6 juta ton. Penurunan ini terjadi pada pengiriman ke pasar utama Asia.
Ekspor ke China turun menjadi 77,7 juta ton, sementara pengiriman ke India berkurang menjadi 99,7 juta ton. Meskipun pengiriman pada akhir tahun menunjukkan hasil lebih baik dari perkiraan, prospek awal 2026 tetap melemah. Proyeksi ekspor kuartal pertama 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi harga berdasarkan kalori, batu bara low-CV Indonesia 4.200 GAR naik ke US$ 48 per ton. Newcastle 5.500 kcal/kg meningkat ke level US$ 76 per ton. Sebaliknya, Newcastle 6.000 kcal/kg bergerak stagnan di kisaran US$ 113 per ton.
Risiko Pasokan dan Arah Pasar
Sentimen pasar kini bergeser menuju risiko pasokan struktural di Indonesia. Ketidakpastian proses persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya memengaruhi perilaku pembeli. Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan keterbatasan pasokan dalam jangka menengah.
Importir semakin enggan menunda pembelian hingga paruh kedua 2026. Penurunan ketersediaan ekspor Indonesia dan terbatasnya alternatif low-CV mendorong pembelian lebih awal. Utilitas Asia yang bergantung pada batu bara Indonesia menjadi pihak paling aktif dalam strategi ini.
Harga batu bara berkalori tinggi masih mendapat dukungan dari permintaan kawasan Pasifik. Namun, tekanan dari kelebihan pasokan di Atlantik dan lemahnya fundamental Eropa membatasi kenaikan. Sebaliknya, segmen low- dan mid-CV berpotensi terus menguat apabila aliran ekspor tetap rendah.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Industri Pergadaian 2025 Tunjukkan Laju Penyaluran Pembiayaan Mencatat Rekor Baru
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
PLTSa Nasional Didorong Percepat Transisi Energi dan Pengelolaan Sampah Modern
- Jumat, 06 Februari 2026
Industri Otomotif Yakin Bangkit Kembali dan Topang Ekonomi Nasional 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Harga Minyak Global Melemah Menjelang Dialog Diplomatik Amerika Serikat dan Iran
- Jumat, 06 Februari 2026
Harga BBM Pertamina Turun Picu Optimisme Konsumen di Tengah Pemulihan Ekonomi
- Jumat, 06 Februari 2026
Tarif Listrik Februari 2026 Tetap Dipertahankan Demi Stabilitas Ekonomi Nasional
- Jumat, 06 Februari 2026












