JAKARTA - Bank Indonesia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski Moody’s menurunkan outlook peringkat utang menjadi negatif.
Keputusan lembaga pemeringkat global ini tidak mencerminkan pelemahan kondisi domestik. BI: Perubahan Outlook Moody’s Karena Risiko Kebijakan, Bukan Pelemahan Ekonomi menjadi penekanan utama kinerja ekonomi nasional saat ini.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kinerja ekonomi domestik solid di tengah ketidakpastian global yang tinggi. Penurunan outlook Moody’s lebih disebabkan oleh persepsi terhadap risiko kebijakan, bukan penurunan daya saing ekonomi. Hal ini menegaskan stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga.
Baca JugaPrudential Syariah Fokus Perlindungan dan Perencanaan Finansial Lintas Mata Uang Keluarga
Moody’s mempertahankan sovereign credit rating pada level investment grade Baa2. Meski demikian, lembaga tersebut menurunkan outlook menjadi negatif. Afirmasi rating ini mencerminkan ketahanan ekonomi yang tetap kuat, didukung pertumbuhan stabil serta struktur ekonomi yang sehat.
Pertumbuhan Ekonomi Tetap Tumbuh Stabil
Perry menuturkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan IV 2025 tercatat 5,39%. Secara keseluruhan, pertumbuhan tahun 2025 mencapai 5,1%. Inflasi juga tetap terkendali pada 2,92%, berada dalam kisaran sasaran BI.
Stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui kebijakan moneter yang konsisten. Likuiditas memadai dan permodalan perbankan tinggi turut menopang sistem keuangan. Risiko kredit yang rendah dan digitalisasi sistem pembayaran juga menjadi faktor pendukung pertumbuhan.
Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5% jangka pendek hingga menengah. Defisit fiskal diproyeksikan di bawah 3% terhadap PDB. Rasio utang pemerintah juga tetap rendah dibandingkan negara sekelas, menunjukkan ketahanan fiskal yang kuat.
Tantangan dan Upaya Pemerintah
Meski ekonomi tetap solid, Indonesia menghadapi tantangan memperkuat basis penerimaan negara. Langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan dan stabilitas makroekonomi. Pemerintah terus meningkatkan efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan untuk mendukung hal tersebut.
Perry menekankan, sinergi antara BI, KSSK, dan pemerintah menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi. Koordinasi ini membantu meningkatkan kepercayaan pasar. Dengan langkah-langkah terukur, ekonomi domestik mampu menahan gejolak global sekaligus menjaga pertumbuhan.
Moody’s juga mengapresiasi upaya pemerintah dalam reformasi fiskal. Penataan anggaran dan peningkatan kualitas belanja negara dianggap memperkuat daya tahan ekonomi. Namun, risiko terkait kepastian kebijakan tetap menjadi perhatian.
Ketahanan Eksternal Tetap Kuat
Bank Indonesia menegaskan, ketahanan eksternal ekonomi Indonesia terjaga. Neraca Pembayaran Indonesia menunjukkan surplus neraca perdagangan Desember 2025 sebesar US$ 2,51 miliar. Posisi cadangan devisa mencapai US$ 156,5 miliar, setara 6,4 bulan impor, jauh di atas standar internasional.
Cadangan devisa yang kuat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini menambah kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik. BI menegaskan, stabilitas eksternal menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Perry menambahkan, penguatan bauran kebijakan tetap dilakukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Sinergi dengan pemerintah melalui KSSK membantu menghadapi ketidakpastian global. Langkah ini penting agar pertumbuhan tetap berlanjut dengan risiko yang terkendali.
Proyeksi Pertumbuhan ke Depan
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9%-5,7%. Untuk 2027, pertumbuhan diperkirakan meningkat menjadi 5,1%-5,9%. Inflasi tetap dikendalikan dan sistem keuangan terus dipantau secara intensif.
Kinerja sektor riil dan keuangan yang solid menjadi landasan proyeksi ini. Sektor industri, perdagangan, dan jasa tetap menunjukkan ketahanan terhadap tekanan global. Dengan pengawasan dan kebijakan yang tepat, ekonomi domestik diperkirakan mampu tumbuh berkelanjutan.
Perry menekankan, langkah menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap menjadi prioritas. BI akan terus memperkuat koordinasi dengan KSSK dan pemerintah. Tujuannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.
Meski Moody’s menurunkan outlook menjadi negatif, fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Penurunan outlook lebih disebabkan oleh risiko kebijakan, bukan pelemahan ekonomi. BI: Perubahan Outlook Moody’s Karena Risiko Kebijakan, Bukan Pelemahan Ekonomi menjadi penegasan komitmen menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar.
Koordinasi erat antara BI, KSSK, dan pemerintah memastikan ekonomi domestik tetap tangguh. Stabilitas fiskal, moneter, dan eksternal terus diperkuat. Dengan langkah-langkah ini, Indonesia mampu menghadapi ketidakpastian global sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Dewan Energi Nasional Sebut Biodiesel Berperan Strategis Dalam Mewujudkan Swasembada Energi
- Jumat, 06 Februari 2026
Provinsi Lampung Perkuat Energi Terbarukan Menuju Pusat Energi Bersih Tingkat Nasional
- Jumat, 06 Februari 2026
Hilirisasi Dan Energi Terbarukan Menjadi Magnet Baru Modal Global Ke Indonesia
- Jumat, 06 Februari 2026
Menteri Perdagangan Tinjau Ketersediaan Minyak Goreng Guna Pastikan Stabilitas Pasokan Nasional
- Jumat, 06 Februari 2026
Ribuan Karung Limbah Minyak Hitam Di Pantai Trikora Bintan Mulai Dibersihkan
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Harga Perak Hari Ini Mengalami Koreksi, Momentum Potensial untuk Para Investor
- Jumat, 06 Februari 2026
Syarat KUR Mandiri 2026: Hadir dengan Pinjaman Rp50 Juta untuk UMKM Nasional
- Jumat, 06 Februari 2026
Harga Emas Perhiasan Stabil, Meningkatkan Kepercayaan Investor dan Konsumen Pasar
- Jumat, 06 Februari 2026
Industri Pergadaian 2025 Tunjukkan Laju Penyaluran Pembiayaan Mencatat Rekor Baru
- Jumat, 06 Februari 2026


.jpeg)









