Jumat, 06 Februari 2026

Harga Minyak Global Melemah Menjelang Dialog Diplomatik Amerika Serikat dan Iran

Harga Minyak Global Melemah Menjelang Dialog Diplomatik Amerika Serikat dan Iran
Harga Minyak Global Melemah Menjelang Dialog Diplomatik Amerika Serikat dan Iran

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menunjukkan tren melemah menjelang perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.

Pasar mencermati dinamika geopolitik yang dinilai berpotensi meredakan risiko gangguan pasokan global. Situasi ini membuat pelaku pasar bersikap lebih berhati-hati dalam merespons sentimen energi.

Harga Minyak Lanjut Turun Jelang Perundingan AS–Iran Jumat (6/2): WTI di US$62,47 menjadi gambaran kondisi pasar saat ini. Tekanan harga muncul setelah kekhawatiran terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah mulai mereda. Investor menilai peluang stabilitas kawasan lebih terbuka dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.

Baca Juga

Pertamina Tambah Pasokan Gas LPG 3 Kg di Bone Dukung Kebutuhan Masyarakat

Pada perdagangan Jumat, harga minyak berada di jalur pelemahan mingguan pertama setelah mencatat penguatan beruntun. Kondisi tersebut menandai perubahan sentimen yang cukup signifikan di pasar energi global. Faktor geopolitik dan fundamental kembali menjadi pertimbangan utama pelaku pasar.

Perhatian Pasar Tertuju pada Perundingan Nuklir

Fokus utama pasar tertuju pada rencana pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Oman. Pertemuan ini dinilai penting karena berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan minyak dari kawasan strategis. Harapan akan meredanya ketegangan menjadi salah satu faktor penekan harga.

Amerika Serikat dan Iran sepakat menggelar dialog di tengah meningkatnya dinamika politik kawasan. Kehadiran militer AS di Timur Tengah sebelumnya sempat meningkatkan kekhawatiran pasar. Namun, peluang dialog diplomatik memberi sinyal penurunan risiko konflik terbuka.

Meski demikian, negara-negara di kawasan tetap berupaya menahan eskalasi agar tidak berkembang menjadi konflik lebih luas. Stabilitas kawasan menjadi kepentingan bersama karena menyangkut pasokan energi global. Pasar merespons kondisi ini dengan menyesuaikan ekspektasi harga minyak.

Tekanan Harga Terlihat pada Pergerakan WTI

Harga minyak mentah West Texas Intermediate tercatat di level US$62,47 per barel. Angka tersebut mencerminkan penurunan signifikan dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini menunjukkan tekanan jual yang masih dominan di pasar.

Penurunan harga WTI mencapai sekitar 1,3 persen dalam satu sesi perdagangan. Kondisi tersebut memperpanjang tren negatif setelah penurunan tajam pada sesi sebelumnya. Pasar menilai sentimen jangka pendek masih cenderung melemah.

Pada perdagangan sebelumnya, harga WTI sempat merosot lebih dari dua persen. Penurunan ini mempertegas perubahan arah harga dalam waktu singkat. Volatilitas kembali menjadi ciri utama pergerakan pasar energi global.

Peran Strategis Selat Hormuz dalam Pasar Energi

Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz yang strategis. Jalur ini menjadi urat nadi distribusi minyak global dari Timur Tengah. Setiap dinamika di kawasan ini langsung memengaruhi sentimen pasar.

Sejumlah negara anggota OPEC mengandalkan Selat Hormuz untuk menyalurkan ekspor minyak mentah mereka. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak termasuk negara yang sangat bergantung pada jalur tersebut. Iran juga menjadikan kawasan ini sebagai rute utama ekspor energi.

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz sebelumnya sempat mendorong harga minyak naik. Namun, meredanya kekhawatiran konflik membuat tekanan harga kembali muncul. Pasar kini menilai risiko gangguan pasokan relatif terkendali.

Fundamental Lemah Membayangi Prospek Harga

Analis Capital Economics menilai sentimen geopolitik tidak lagi menjadi pendorong utama harga minyak. Mereka melihat faktor fundamental justru lebih berpengaruh dalam jangka menengah. Kondisi ini membuat prospek harga cenderung melemah.

“Kekhawatiran geopolitik kemungkinan akan mereda dan digantikan oleh fundamental yang lemah,” tulis Capital Economics. Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan bahwa pasokan global masih cukup longgar. Permintaan juga dinilai belum menunjukkan pemulihan signifikan.

Capital Economics menyoroti pemulihan produksi minyak Kazakhstan sebagai faktor tambahan. Produksi yang meningkat diperkirakan akan menekan harga minyak global. Mereka memperkirakan harga minyak bisa mendekati US$50 per barel pada akhir 2026.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

PLTSa Nasional Didorong Percepat Transisi Energi dan Pengelolaan Sampah Modern

PLTSa Nasional Didorong Percepat Transisi Energi dan Pengelolaan Sampah Modern

Industri Otomotif Yakin Bangkit Kembali dan Topang Ekonomi Nasional 2026

Industri Otomotif Yakin Bangkit Kembali dan Topang Ekonomi Nasional 2026

Harga BBM Pertamina Turun Picu Optimisme Konsumen di Tengah Pemulihan Ekonomi

Harga BBM Pertamina Turun Picu Optimisme Konsumen di Tengah Pemulihan Ekonomi

Update Harga Batu Bara Menguat di Tengah Dinamika Pasar Energi Asia

Update Harga Batu Bara Menguat di Tengah Dinamika Pasar Energi Asia

Tarif Listrik Februari 2026 Tetap Dipertahankan Demi Stabilitas Ekonomi Nasional

Tarif Listrik Februari 2026 Tetap Dipertahankan Demi Stabilitas Ekonomi Nasional