Aliran Dana Luar Negeri Masuk Indonesia Dorong Penguatan Nilai Rupiah

MO
Moch Febrianto

Editor: yoga susila utama

Jumat, 11 September 2026
Aliran Dana Luar Negeri Masuk Indonesia Dorong Penguatan Nilai Rupiah
Aliran Dana Luar Negeri Masuk Indonesia (FOTO: NET)

JAKARTA - Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menilai proyeksi aliran dana yang mantap menjadi salah satu sebab yang mendasari penguatan kurs domestik.

Situasi tersebut terlihat lewat hadirnya kembali dana investor luar ke pasar surat utang Indonesia.

Menurut pandangan Radhika, produk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga bisa menyerap minat banyak pemodal dari luar negeri.

Persentase pemodal dari luar pada produk tersebut bahkan merangkak naik cukup tajam.

"Menurut saya hal yang membantu rupiah adalah prospek arus modal (flows outlook) yang sudah stabil. Maksud saya terkait prospek arus modal ini adalah kembalinya arus modal asing ke pasar obligasi," katanya dalam media briefing "Membaca Arah Investasi Indonesia 2027 di Tengah Sinyal Global, Risiko, dan Peluang bagi Perusahaan Multinasional", Kamis (10/9/2026).

Radhika menjelaskan bahwa gairah investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) turut menjadi poin yang menopang nilai tukar.

Pergerakan FDI pada periode ini dipandang cukup solid dan berada di atas pencapaian tahun lalu.

Menurut perkiraannya, dinamika tersebut menandakan bahwa proyeksi aliran dana tetap menguntungkan kendati volume transaksi perdagangan sedang melemah.

Secara umum, masuknya aliran modal membantu menyelaraskan neraca pembayaran sehingga memberi imbas menguntungkan bagi mata uang garuda.

"Secara keseluruhan, kondisi ini menyeimbangkan neraca pembayaran, yang merupakan perkembangan positif bagi rupiah," ujar dia.

Pertimbangan lain yang turut menyokong kurs adalah melesunya mata uang dolar AS dari posisi teratasnya di ranah global.

Kelesuan dolar AS yang berjalan selaras dengan proyeksi aliran modal positif diperkirakan bakal menyangga posisi mata uang garuda.

"Dolar yang melemah dipadukan dengan prospek arus modal yang positif diperkirakan bakal menopang rupiah," tutur Radhika.

Radhika menguraikan bahwa penyesuaian naik suku bunga akibat tekanan nilai tukar kini tak lagi mendesak bagi otoritas moneter.

Bank Indonesia (BI) dinilai sudah mengambil tindakan pencegahan sejak awal ketika nilai tukar sempat tertekan.

Langkah menaikkan suku bunga dipandang dapat menunjang stabilitas sekaligus posisi nilai tukar.

Maka dari itu, Radhika tidak melihat adanya dorongan bagi BI untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter kembali.

"Namun secara regional, kami melihat beberapa bank sentral lain baru mulai memperketat kebijakan. Dari sudut pandang itu, ya, BI memang sudah lebih dulu mengambil langkah preentif," katanya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua