Hasil Investasi Asuransi Jiwa Anjlok 115,3% Jadi Minus Rp 2,47 Triliun pada Semester I-2026

RE
Kamis, 03 September 2026
Hasil Investasi Asuransi Jiwa Anjlok 115,3% Jadi Minus Rp 2,47 Triliun pada Semester I-2026

WARTAFINANSIAL.COM — Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyebut kinerja investasi yang memburuk tersebut belum menggambarkan kondisi fundamental industri. Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI Meylindawati Tjoa menegaskan penempatan dana asuransi jiwa berorientasi jangka panjang, sehingga fluktuasi dalam satu semester tidak bisa dijadikan acuan menyimpulkan siklus pasar secara keseluruhan.

"Kinerja dalam kurun waktu tertentu saja tidak dapat disimpulkan dari siklus pasar secara keseluruhan," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Senin (31/8/2026).

Kontraksi pada Dua Instrumen Utama

Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo menjelaskan tekanan terbesar berasal dari penyusutan nilai instrumen SBN dan saham, dua kelas aset yang mendominasi portofolio industri. Meski begitu, diasosiasikan tidak terlalu khawatir karena perusahaan anggota masih mampu menjaga tingkat solvabilitas atau Risk Based Capital (RBC) di level yang sehat.

"Perusahaan-perusahaan tetap bisa mempertahankan RBC-nya dengan baik, walaupun mengalami kontraksi di investasi," kata Albertus.

Dia menambahkan, alokasi investasi industri tidak semata-mata mengejar imbal hasil tinggi. Prinsip asset liability management menjadi pertimbangan utama, terutama dalam mencocokkan tenor aset dengan kewajiban pembayaran klaim di masa depan.

"Kami juga mengingatkan kepada anggota bahwa harus ada matching antara aset dan liabilitas," ungkapnya.

Total Portofolio Tetap Tumbuh 2,4%

Kendati hasil investasi terkoreksi, total nilai investasi industri asuransi jiwa justru naik menjadi Rp 564,42 triliun pada semester I-2026, tumbuh 2,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. SBN tetap menjadi primadona dengan penempatan Rp 251,64 triliun, meningkat 12,8% secara tahunan.

Berbeda dengan SBN, kepemilikan saham justru menyusut signifikan. Portofolio efek ekuitas tercatat Rp 101,56 triliun, atau merosot 16,4% dari posisi akhir semester I-2025.

Dua instrumen ini diperkirakan masih akan mendominasi komposisi investasi industri hingga tutup tahun. Albertus menyebut keduanya memang menjadi pilihan utama penempatan dana, terlepas dari gejolak pasar yang terjadi saat ini.

BI Rate 5,75% Tak Ubah Strategi Alokasi

Keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level 5,75% tidak serta-merta mendorong industri mengubah arah investasi secara agresif. Albertus menuturkan setiap perusahaan memiliki komite investasi yang mampu mengantisipasi pergerakan pasar dan melakukan diversifikasi sesuai kebutuhan masing-masing.

Dia optimistis peluang perbaikan hasil investasi tetap terbuka seiring siklus pasar yang berpotensi berbalik arah.

"Kalau bisa turun, juga bisa naik," tuturnya.

Yang terpenting, lanjut Albertus, seluruh keputusan alokasi harus tetap berpijak pada kemampuan memenuhi kewajiban pembayaran kepada pemegang polis.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua