Kapasitas Panel Surya China Kini Lampaui Batu Bara, Jadi Modal Besar Elektrifikasi Mobil Listrik

RE
Kamis, 03 September 2026
Kapasitas Panel Surya China Kini Lampaui Batu Bara, Jadi Modal Besar Elektrifikasi Mobil Listrik

WARTAFINANSIAL.COM — Media pemerintah China mengumumkan pekan ini bahwa negara itu kini memiliki total kapasitas PLTS terpasang sebesar 1.288 gigawatt (GW). Angka tersebut tipis mengungguli kapasitas pembangkit batu bara yang tercatat sebesar 1.285 GW. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah energi China, tenaga surya duduk di posisi puncak sebagai jenis pembangkit dengan kapasitas terbesar, menggeser batu bara ke peringkat kedua.

Dari total keseluruhan kapasitas pembangkit listrik di China, tenaga surya kini menguasai pangsa 31,5 persen. Sementara itu, porsi batu bara turun dan untuk pertama kalinya berhasil ditekan di bawah angka 50 persen dari total bauran listrik nasional pada semester pertama tahun ini.

Angka Kapasitas Vs Realita Listrik yang Mengalir

Meski kapasitasnya sudah lebih besar, bukan berarti China sudah lebih banyak memakai tenaga surya dibanding batu bara untuk menyalakan lampu dan industri. Setiap pembangkit punya faktor kapasitas atau rasio efisiensi yang berbeda-beda terhadap namaplatenya.

Untuk PLTS, karena matahari tidak bersinar 24 jam, faktor kapasitasnya biasanya berada di kisaran 25 persen. Sebaliknya, pembangkit batu bara memiliki faktor kapasitas yang lebih tinggi, sering kali di angka 50 persen, meski sangat bergantung pada karakteristik jaringan listrik (grid) masing-masing wilayah.

Artinya, secara riil batu bara masih mendominasi produksi listrik. Namun proporsinya terus menyusut. Pada paruh pertama tahun ini, kombinasi angin dan surya menyumbang 24,6 persen dari total pembangkitan listrik China, sementara batu bara menyumbang 49,7 persen. Ini adalah titik balik historis karena untuk pertama kalinya batu bara menyumbang kurang dari setengah kebutuhan listrik China.

Ini Dampaknya bagi Pemilik dan Calon Pembeli Mobil Listrik

Bagi konsumen otomotif, kabar ini sangat relevan di tengah tren elektrifikasi massal. Penjualan mobil listrik murni (BEV) di China meroket, sementara penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) justru menurun drastis. Mengisi baterai kendaraan listrik dengan sumber energi yang makin hijau jelas lebih berkelanjutan dibandingkan ketergantungan pada pembangkit fosil.

Terlebih, harga minyak bumi sebagai bahan baku bahan bakar konvensional sedang bergejolak dan mengalami kenaikan di pasar global. Peralihan ke mobil listrik menjadi semakin masuk akal secara ekonomi ketika listrik yang digunakan pun dihasilkan dari pembangkit yang semakin ramah lingkungan.

Program feed-in tariff yang selama ini menjamin harga listrik surya memang sudah dihapuskan, membuat instalasi PLTS baru sedikit melambat tahun ini karena harus bersaing di pasar terbuka. Namun biaya pembangunan pembangkit surya yang lebih murah dibandingkan jenis lainnya membuat laju instalasi tetap berlanjut dengan cepat.

Batu Bara Belum Pergi: Kontrak Jangka Panjang dan Baterai Grid

Perlu dicatat, konsumsi batu bara tahun ini secara total sedikit naik kembali. Penyebabnya adalah lonjakan permintaan listrik serta menurunnya penggunaan gas fosil untuk pembangkit akibat harga yang melonjak. Kontrak jangka panjang pembangkit batu bara yang masih berjalan juga memaksa jaringan listrik tetap menyalurkannya, bahkan kadang memangkas (curtailment) pasokan listrik dari pembangkit terbarukan yang sebenarnya sedang tersedia.

China masih terus membangun pembangkit batu bara baru. Meski demikian, kehadiran baterai grid berskala besar yang terhubung ke jaringan diyakini menjadi solusi untuk mengatasi masalah pemborosan energi terbarukan ini.

Bagi upaya penanganan perubahan iklim, langkah China sebagai emitor karbon terbesar dunia saat ini sangat krusial. Jika perekonomian terbesar kedua dunia ini bisa membuktikan pertumbuhan ekonomi tidak harus berbanding lurus dengan tambahan polusi, negara-negara lain—termasuk pasar otomotif berkembang—punya peta jalan yang lebih jelas untuk mengejar transisi energi serupa.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua