Pembiayaan Investasi Multifinance Turun 5,33% Jadi Rp 167,89 Triliun, CNAF dan BRI Finance Justru Tumbuh Pesat
WARTAFINANSIAL.COM — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan investasi industri multifinance per Juni 2026 sebesar Rp 167,89 triliun, turun 5,33% secara year on year (YoY). Tekanan ini terjadi di tengah sikap pelaku usaha yang kian selektif dalam merealisasikan belanja modal (capital expenditure) akibat dinamika ekonomi yang belum stabil.
Namun, kinerja PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) dan PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) justru menunjukkan arah sebaliknya. Keduanya berhasil menemukan ceruk pertumbuhan di saat mayoritas pemain lain mengalami koreksi.
Apa Resep CNAF dan BRI Finance di Tengah Tekanan Industri?
CNAF mencatatkan pertumbuhan piutang pembiayaan investasi sebesar 53% YoY, melonjak dari Rp 783 miliar pada Juni 2025 menjadi Rp 1,19 triliun di Juni 2026. BRI Finance tak kalah impresif dengan pertumbuhan 46,85% YoY pada segmen yang sama.
Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengungkapkan, strategi diversifikasi portofolio menjadi kunci utama dalam menjaga pertumbuhan. Perusahaan secara konsisten mencermati perkembangan pasar untuk mengoptimalkan produk pembiayaan yang relevan di masing-masing segmen.
"Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi portofolio untuk menjaga keseimbangan sumber pertumbuhan sekaligus memperkuat ketahanan bisnis di tengah kondisi ekonomi yang dinamis," ujarnya kepada Kontan, Senin (31/8).
Kendati agresif mencari pertumbuhan, Ristiawan menegaskan tetap mengedepankan kualitas aset, prinsip kehati-hatian, dan kesehatan portofolio secara keseluruhan. Strategi pertumbuhan tidak serta-merta mengorbankan aspek risiko perusahaan.
Kenapa Industri Pembiayaan Investasi Masih Tertekan?
Lesunya pembiayaan investasi secara industri terutama dipicu oleh sikap pelaku usaha yang menahan diri dalam melakukan ekspansi. Ketidakpastian kondisi perekonomian membuat sejumlah perusahaan memilih untuk menunda realisasi belanja modal mereka.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh pemain multifinance. Pertumbuhan kredit investasi memang sangat bergantung pada siklus bisnis dan keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi ke depan.
Di sisi lain, BRI Finance melihat dinamika ini sebagai momentum untuk melakukan optimalisasi portofolio secara seimbang. Corporate Secretary BRI Finance Aditia Fakhri Ramadhani menyatakan, pihaknya mempertimbangkan potensi masing-masing segmen, kebutuhan nasabah, serta profil risikonya sebelum memutuskan ekspansi.
"Hal ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga komposisi portofolio pembiayaan secara optimal," katanya kepada Kontan, Selasa (1/9).
Optimisme di Sisa Tahun 2026
Meski data industri hingga pertengahan tahun masih menunjukkan kontraksi, baik CNAF maupun BRI Finance sama-sama melihat peluang perbaikan pada paruh kedua 2026. Optimisme ini didorong oleh strategi pembiayaan selektif yang diterapkan perusahaan sepanjang tahun berjalan.
Kedua perusahaan meyakini pembiayaan yang tepat sasaran akan terus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Permintaan di sektor-sektor tertentu dinilai masih kuat, terutama bagi debitur dengan profil risiko yang sehat dan kebutuhan pendanaan yang jelas.
Ke depan, kunci keberhasilan pemain multifinance bukan hanya terletak pada kemampuan menyalurkan pembiayaan, melainkan juga pada kecermatan dalam memilah sektor dan calon debitur yang tepat. Prinsip kehati-hatian tetap menjadi fondasi utama di tengah upaya mendorong ekspansi bisnis.