Gus Ipul Minta Sekolah Rakyat Awasi Murid 24 Jam
WARTAFINANSIAL.COM — Program Sekolah Rakyat memang dirancang sebagai sekolah berasrama, sehingga murid tinggal di lingkungan kampus. Namun hal itu bukan alasan untuk mengendurkan pengawasan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul mengingatkan para kepala Sekolah Rakyat agar tidak bekerja setengah-setengah.
Mengapa Pengawasan Jadi Prioritas Pertama?
Menurut Gus Ipul, kondisi asrama membuat anak-anak berada di satu tempat selama 24 jam. Pengawasan ketat pun menjadi harga mati, terutama untuk mencegah perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi.
“Karena ini boarding school, maka anak-anak harus terawasi selama 24 jam, tanpa kompromi. Upayakan ini menjadi kesadaran dari bapak-ibu sekalian,” ujarnya saat rapat virtual.
Ia juga meminta jajaran sekolah melibatkan wali asuh, wali asrama, dan memanfaatkan kamera pengawas atau CCTV. Semua itu digunakan untuk memastikan siswa tetap aman, bukan justru untuk mengintimidasi.
Kepatuhan dan Kolaborasi, Dua Pilar yang Ikut Ditekankan
Pengawasan bukan satu-satunya poin. Gus Ipul menekankan kepatuhan pada prosedur dan tata kelola yang baik. Ia mengingatkan tata kelola keuangan harus bersih dari korupsi, bebas konflik kepentingan, dan menerapkan standar belajar serta asrama yang seragam di semua Sekolah Rakyat.
Selain itu, kolaborasi dengan pihak luar dinilai penting. Sekolah Rakyat tidak berjalan sendiri. Guru tamu, misalnya, harus dilibatkan aktif, bukan sekadar pelengkap. Pemda juga diminta masuk untuk memperkuat dukungan keamanan, kebersihan, dan penanganan kasus.
“Sekolah Rakyat berjalan karena kita bergerak bersama. Guru tamu dilibatkan aktif, bukan pelengkap. Tidak boleh bekerja setengah-setengah di lingkungan Sekolah Rakyat,” tegas mantan Wakil Gubernur Jawa Timur ini.
Karhutla Mendekat, Murid di Kotawaringin Timur Justru Tetap di Asrama
Persoalan lain ikut mengemuka dalam rapat tersebut, yakni kebakaran hutan dan lahan yang lokasinya dekat dengan Sekolah Rakyat. Salah satunya terjadi di SRT 1 Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Jarak gedung dengan titik kebakaran hanya sekitar tiga meter, membuat asap pekat sempat menyelimuti area sekolah.
Kepala SRT 1 Kotawaringin Timur, Nikkon Bhastari, memutuskan tidak memulangkan para siswa. Menurutnya, tetap berada di lingkungan sekolah justru lebih aman dibandingkan pulang ke rumah.
“Untuk anak-anak dikondisikan tidak kami pulangkan karena lebih berbahaya ketika pulang daripada di SR. Kalau di SR dekat dengan puskesmas, dekat dengan rumah sakit, fasilitas kami lengkap. Oksigen ada, masker sudah terpenuhi, nebulizer juga sudah siap,” tutur Nikkon.
Kegiatan belajar tetap berjalan. Jika ruang kelas terganggu asap, pembelajaran dipindah ke asrama dengan bantuan para guru, biasanya berlangsung pukul 08.00–09.00 pagi.
Gus Ipul pun mengingatkan kepala sekolah di wilayah tersebut agar terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Ia juga memberi waktu satu hingga tiga bulan bagi kepala sekolah beradaptasi dengan kondisi baru sebelum akhirnya harus bergerak lebih cepat.
“Saya masih memberikan satu kesempatan selama satu sampai tiga bulan kepada para kepala sekolah untuk menyesuaikan diri. Setelah itu kita harus take off,” katanya.
Tak kalah penting, Mensos meminta laporan berkala dari setiap sekolah mengenai kondisi kesehatan, perkembangan mental, hingga latar belakang siswa. Ini menjadi bekal agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran.