Rekening Supriyono Aktif Kembali, Bank Mandiri Didorong Perkuat Edukasi Publik

RE
Redaksi

Editor: Sutomo

Senin, 31 Agustus 2026
Rekening Supriyono Aktif Kembali, Bank Mandiri Didorong Perkuat Edukasi Publik
Ilustrasi Bank Mandiri dan Krisi Kepercayaan (Foto.Sumber: Canva)

JAKARTA -  Menarik mencermati polemik rekening senilai Rp80 juta milik Supriyono alias Botok, Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), yang kemudian menjadi salah satu ujian komunikasi bagi Bank Mandiri.

Secara bisnis, satu rekening tentu tidak berarti banyak bagi bank dengan aset ribuan triliun rupiah. Namun, ketika menyangkut akses nasabah terhadap uangnya, persoalan yang terlihat kecil dapat dengan cepat berkembang menjadi persoalan persepsi.

Bank Mandiri sempat menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan merupakan penundaan transaksi atas permintaan aparat penegak hukum dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 

OJK kemudian menguatkan penjelasan mengenai dasar hukum penundaan transaksi tersebut. Lalu pada 26 Agustus 2026, rekening Supriyono sudah kembali dapat digunakan setelah proses penundaan berakhir.

Namun, berakhirnya proses administratif tidak serta-merta mengakhiri percakapan di ruang publik. Di media sosial, informasi bergerak jauh lebih cepat daripada klarifikasi. 

Karena itu, tantangan Bank Mandiri berikutnya bukan hanya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi juga memastikan persepsi publik tetap berada dalam koridor fakta.

“Dalam situasi seperti ini, perusahaan harus memastikan informasi yang keluar benar-benar terkontrol. Jangan sampai perbedaan istilah atau penjelasan justru membuka ruang tafsir baru,” kata M. Sechan Naufaly, Production & Inventory Controller Head PublikaLabs.

Menurut dia, konsistensi pesan antara manajemen, juru bicara, layanan nasabah, dan kanal digital menjadi penting ketika sebuah isu mendapat perhatian luas.

Setelah persoalan rekening selesai, perhatian kemudian bergeser pada bagaimana Bank Mandiri mengelola percakapan yang telanjur terbentuk. Media sosial, menurut Sechan, tidak perlu dijadikan arena untuk membalas kritik satu per satu. Yang lebih penting adalah memastikan informasi yang benar tetap hadir dan mudah dipahami.

Dalam kesempatan berbeda, Abdillah, Business Development Head PublikaLabs, melihat media sosial dapat dimanfaatkan untuk membangun kembali pemahaman publik. 

Kanal digital, kata dia, dapat menjadi ruang edukasi yang menjelaskan secara sederhana perbedaan penundaan transaksi dan pemblokiran, kewenangan masing-masing pihak, serta prosedur yang berlaku.

Pendekatan tersebut menjadi penting dalam fase trust recovery. Bank tidak perlu terburu-buru mengganti pemberitaan negatif dengan kampanye citra. Yang lebih dibutuhkan adalah informasi yang memberikan kepastian kepada nasabah mengenai apa yang terjadi dan bagaimana bank menangani persoalan tersebut.

“Dari sisi bisnis, yang harus dijaga bukan hanya penyelesaian kasusnya, tetapi hubungan jangka panjang dengan nasabah. Nasabah ingin tahu bahwa ketika menghadapi masalah, ada proses yang jelas dan bank hadir memberikan kepastian,” ujar Abdillah.

Kebutuhan menjaga kepercayaan itu sejalan dengan skala Bank Mandiri. Total aset konsolidasian mencapai sekitar Rp2.829,9 triliun pada akhir 2025, sementara dana pihak ketiga sekitar Rp1.763 triliun pada Juni 2026. Di balik angka tersebut terdapat kepercayaan masyarakat dalam skala yang jauh lebih besar daripada nilai satu rekening.

Karena itu, manajemen perlu menjaga komunikasi tetap sederhana dan tidak defensif. Tidak semua kritik harus dijawab, tetapi pertanyaan yang terus muncul perlu diberi penjelasan. Seluruh kanal komunikasi juga harus berpegang pada satu narasi dan fakta yang sama agar tidak menimbulkan kebingungan baru.

Pada akhirnya, Bank Mandiri tidak perlu memenangkan perdebatan. Yang lebih penting adalah memastikan setelah gelombang berlalu, nasabah tetap merasa aman. Krisis mungkin dapat selesai secara administratif dalam hitungan hari, tetapi kepercayaan dibangun melalui pengalaman dan komunikasi yang konsisten.

Ada ungkapan yang berbunyi, “Smooth seas do not make skillful sailors.” Laut yang tenang tidak pernah melahirkan pelaut yang andal. Sebuah institusi pun demikian. Kualitasnya bukan hanya terlihat ketika keadaan berjalan mulus, tetapi ketika gelombang datang dan ia mampu menjaga kapal tetap pada arah.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua