Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.690, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen demi Stabilitas
WARTAFINANSIAL.COM — Pergerakan rupiah pada awal pekan ini dipengaruhi dua faktor eksternal utama. Pertama, harga minyak mentah dunia yang mulai menjinak setelah sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik. Sebagai negara pengimpor energi, stabilisasi harga minyak mengurangi kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor, sehingga menekan permintaan dolar AS di dalam negeri.
Kedua, dolar AS sedang mengalami tekanan di pasar global. Pada Jumat (21/8/2026), mata uang Paman Sam bahkan sempat menyentuh posisi terendah dalam tiga bulan terhadap euro. Kekhawatiran pasar saat itu dipicu kebijakan pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Departemen Keuangan AS dan kondisi fiskal negara tersebut.
Meski indeks dolar sempat rebound tipis 0,11 persen ke level 98,94 pada Senin, analis menilai ruang penguatan rupiah masih sangat bergantung pada arah dolar AS dalam beberapa hari ke depan.
Empat Syarat Menuju Level Rp17.500
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai level Rp17.500 per dolar AS masih realistis untuk diuji dalam jangka pendek. Namun, ada empat kondisi yang harus terjaga agar mata uang Garuda bisa menembus level tersebut.
Pertama, aliran modal asing ke instrumen keuangan Indonesia, terutama Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), harus terus berlanjut. Kedua, dolar AS tidak boleh kembali menguat tajam di pasar internasional.
Ketiga, harga minyak dunia harus relatif stabil dan tidak kembali melonjak. Keempat, kepercayaan pasar terhadap kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah harus tetap kuat. Dengan kondisi tersebut, rupiah berpeluang menguji kisaran Rp17.500–Rp17.550 per dolar AS dalam beberapa pekan mendatang.
Kendati demikian, level Rp17.500 belum tentu menjadi titik keseimbangan baru. Pergerakan kurs masih sangat sensitif terhadap perubahan harga minyak, kebijakan moneter AS, arus modal asing, dan fundamental ekonomi domestik.
BI Pertahankan Suku Bunga, Inflasi Masih Terkendali
Dari dalam negeri, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 18–19 Agustus 2026. Suku bunga Deposit Facility tetap di 4,75 persen dan Lending Facility di 6,50 persen.
Kebijakan ini ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memitigasi dampak ketidakpastian global serta imported inflation. Inflasi Indeks Harga Konsumen per Juli 2026 tercatat 2,88 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5±1 persen.
Defisit Transaksi Berjalan Jadi Tantangan
Di balik peluang penguatan, rupiah masih menghadapi risiko dari fundamental eksternal. Defisit transaksi berjalan atau current account deficit melebar menjadi sekitar US$12,49 miliar pada kuartal II-2026. Angka ini menjadi salah satu faktor yang dicermati investor asing sebelum menempatkan dananya di pasar keuangan Indonesia.
Dengan kombinasi tekanan eksternal yang mereda dan dukungan kebijakan moneter yang stabil, pergerakan rupiah dalam pekan-pekan mendatang akan menjadi ujian apakah level Rp17.500 sekadar target jangka pendek atau justru menjadi titik keseimbangan baru bagi mata uang Garuda.