Hadirnya ETF Emas Domestik, Akankah Pemasok Logam Mulia Kian Berjaya?

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 21 Agustus 2026
Hadirnya ETF Emas Domestik, Akankah Pemasok Logam Mulia Kian Berjaya?
Hadirnya ETF Emas Domestik (FOTO: NET)

JAKARTA - World Gold Council (WGC) merespons positif peresmian produk ETF (Exchange Traded Fund) berfondasi emas oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 10 Agustus 2026 yang lalu.

Marissa Salim, Senior Research Lead for APAC WGC, menganggap ETF emas tersebut dihadirkan pada momen yang pas, mengingat animo terhadap jenis investasi emas, beserta instrumen keuangan terkait, sedang melonjak.

“Para investor kini memiliki lebih banyak pilihan dan lebih mudah untuk mengalokasikan investasinya ke emas,” ujanya dari Sumbernya dalam wawancara tertulis, Senin (17/8).

Kendati demikian, ia menuturkan bahwa WGC masih belum dapat meneropong respons pasar atas produk investasi tersebut, sebab ETF berunderlying emas di Tanah Air baru berjalan tidak sampai dua pekan.

Akan tetapi, ia memastikan WGC bakal konsisten mengamati antusiasme pasar Indonesia ke depannya.

Sebabnya, catatan data WGC mengindikasikan bahwa transaksi ETF emas di wilayah Asia melonjak konsisten sejak semester kedua 2024—bahkan sanggup melampaui volume pembelian di Eropa maupun Amerika Utara pada penghujung semester I 2026.

“Jika investor Indonesia telah menantikan kesempatan untuk mengalokasikan dananya ke emas melalui ETF, penyerapan di tahun-tahun mendatang patut diperhatikan,” katanya.

Marissa turut menyebutkan bahwa pengenalan instrumen finansial ber underlying emas tersebut memiliki peluang memberikan kontribusi bagus bagi manufaktur emas batangan (gold bullion) di dalam negeri.

Alasannya, ETF berbasis emas yang diresmikan BEI tersebut memuat underlying asset berbentuk Electronic Gold Receipt (EGR), yang menggambarkan ketersediaan emas murni nyata.

“Permintaan investor ETF yang lebih tinggi akan diikuti permintaan terhadap bullion fisik yang menjadi ‘backing’ ETF tersebut, seiring minat yang tumbuh di tahun-tahun mendatang,” jelasnya.

Ekspektasi serupa turut diutarakan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), salah satu pembuat emas batangan yang menjadi penyedia untuk ekosistem bullion tanah air, termasuk PT Pegadaian (Persero) serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).

Thendra Crisnanda, Direktur Investor Relation HRTA, menyebutkan bahwa secara skema, kemajuan ETF maupun emas batangan sebagai underlying asset ini berpeluang memicu lonjakan permintaan emas skala institusi.

“Dalam jangka panjang, apabila AUM (aset kelolaan) berkembang signifikan, demand dari ETF dapat menjadi complementary growth driver di samping retail investment dan bullion banking,” papar Thendra dari Sumbernya pada wawancara terpisah, Kamis (20/8).

Menukil situs resmi platform finansial Pluang, Pegadaian turut terdaftar selaku bullion bank underlying provider bagi persediaan emas fisik yang mendasari produk ETF emas.

Di samping itu, sampai kuartal II 2026, HRTA sukses mendongkrak capaian omzet serta laba bersihnya menembus lebih dari 100% secara YoY, disokong oleh peranan tiga mitra utamanya, yakni PT Pegadaian Galeri Dua Empat, PT Pegadaian (Persero), dan BRIS.

Thendra menegaskan bahwa HRTA betul-betul memegang kedudukan dominan di ranah industri emas batangan, lantaran memegang kendali rantai hilirisasi mid-to-end, berawal dari sarana pemurnian, pengolahan, jaringan pasokan emas lokal, sampai distribusi.

“Jika kebutuhan physical backing ETF berkembang, HRTA berpotensi menjadi salah satu supplier dalam ekosistem tersebut—tentunya mengikuti persyaratan dari pihak regulator dan perjanjian komersial yang ada,” pungkas Thendra.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua