Pemerintah dan Krakatau Steel Soroti Dampak FTA bagi Industri Lokal

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 21 Agustus 2026
Pemerintah dan Krakatau Steel Soroti Dampak FTA bagi Industri Lokal
Pemerintah dan Krakatau Steel Soroti Dampak FTA (FOTO: NET)

JAKARTA - Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Akbar Djohan menyatakan, eksekusi Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) sanggup mendatangkan keuntungan untuk perekonomian sekaligus memajukan daya saing sektor manufaktur dalam negeri.

Namun demikian, keterbukaan pasar lewat skema FTA wajib diimbangi oleh pemantapan sektor manufaktur domestik. “FTA harus membuka pasar sekaligus memperkuat daya saing industri nasional. Yang perlu kami lihat bukan hanya bagaimana perdagangan menjadi lebih terbuka, tetapi bagaimana keterbukaan tersebut memberikan manfaat nyata bagi perekonomian dan industri nasional,” ujar dia.

Ia menyatakan bahwa manufaktur baja mempunyai multiplier effect yang amat besar terhadap jaringan rantai pasok dan manufaktur terkait. Tiap US$ 1 operasional di sektor baja dikatakan sanggup mendorong sekitar US$ 2,5 di jaringan rantai pasok dan mencapai US$ 13 di manufaktur terkait.

Oleh karena itu, eksekusi FTA perlu memperhitungkan konsekuensinya bagi sektor manufaktur dalam negeri, mencakup investasi, kapasitas utilisasi, tenaga kerja, hingga keberlangsungan rantai pasok.

Krakatau Steel turut mendorong supaya skema FTA ditujukan untuk membuka penetrasi pasar sekaligus menyokong investasi, program hilirisasi, alih teknologi, serta peningkatkan daya saing sektor manufaktur dalam negeri.

Hal tersebut dapat dieksekusi antara lain melalui pengaplikasian trade remedies yang cepat tanggap serta pemantapan Rules of Origin (ROO).

“Pada akhirnya, kebijakan atau skema apa pun harus dilihat dari manfaat nyatanya bagi industri dan perekonomian nasional. FTA harus menjadi instrumen untuk membuka pasar, tetapi pada saat yang sama memperkuat fondasi industrialisasi Indonesia,” tegas Akbar Djohan.

Pemantapan daya saing sektor manufaktur dalam negeri lewat eksekusi FTA tersebut turut menyokong program Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, khususnya agenda meneruskan hilirisasi dan industrialisasi guna meningkatkan nilai tambah domestik.

Pendekatan komprehensif

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berpandangan perlunya pendekatan yang lebih menyeluruh serta berbasiskan data dalam mengukur implikasi dari FTA.

Pendekatan tersebut sangat penting demi mengidentifikasi bidang manufaktur yang terdampak sekaligus menyusun langkah strategi pemantapan sektor manufaktur dalam negeri.

"Pemerintah juga mendorong penyusunan peta jalan (roadmap) industrialisasi serta revitalisasi sektor manufaktur," jelas dia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua