Pergerakan Harga Emas Bergerak Stabil Usai Terjadi Lonjakan Signifikan
JAKARTA - Pergerakan nilai logam mulia menunjukkan tren yang cenderung mendatar pada Kamis (20/8/2026) usai mencatatkan lonjakan signifikan pada perdagangan sebelumnya. Sektor pasar sedang memantau secara cermat gambaran tingkat bunga acuan riil jangka panjang yang diperkirakan lebih rendah di tengah keprihatinan laju inflasi yang terdorong oleh kenaikan komoditas minyak.
Merujuk pada warta media asing, Jumat (21/8/2026), nilai transaksi emas pasar fisik terkoreksi tipis sebesar 0,1% menuju kisaran US$ 4.516,19 per troy ons. Sebelumnya, kisaran harga emas sempat tertekan hingga menyentuh US$ 4.450,08 per troy ons usai pada awal sesi perdagangan berhasil menggapai posisi puncak sejak 2 Juni.
Dinamika pasar tersebut berlangsung usai nilai komoditas emas melesat lebih dari 4% pada hari Rabu. Di saat yang bersamaan, nilai tukar mata uang AS serta imbal hasil surat utang milik pemerintah AS mengalami penurunan tajam usai Otoritas Keuangan AS merilis rencana untuk memperbesar aksi buyback terhadap surat utang jangka panjang.
Di samping itu, perdagangan emas berjangka AS ditutup menguat 0,6% ke level US$ 4.571,40 per troy ons.
Pengamat pasar dari American Gold Exchange Jim Wyckoff menyebutkan bahwa dinamika emas pada hari Kamis mencerminkan langkah pencairan keuntungan usai peningkatan pesat pada sesi sebelumnya.
“Harga emas berada di bawah tekanan aksi ambil untung rutin setelah kenaikan kuat pada sesi sebelumnya,” kata Wyckoff.
Menurut pengamat tersebut, catatan resmi sidang rapat bank sentral AS yang terindikasi hawkish turut memicu tekanan terhadap komoditas emas. Keprihatinan atas inflasi kembali meningkat usai komoditas minyak menguat, sehingga menahan laju penguatan logam mulia.
Akan tetapi, nilai emas kembali memperoleh dorongan usai Pejabat Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa pihak pemerintah berpeluang memperbesar volume pembelian kembali surat utang pemerintah. Estimasi nilai aksi buyback tersebut bahkan berpotensi mencapai lebih dari US$ 4 miliar pada tiap tahap penerbitannya.
Pengamat independen Tai Wong memperkirakan bahwa proyeksi penurunan tingkat bunga acuan riil jangka panjang masih menjadi faktor pendorong utama bagi nilai emas.
“Harga emas didukung oleh prospek suku bunga riil jangka panjang yang lebih rendah,” ujar Wong.
Emas sepanjang masa ini menjadi salah satu instrumen yang diminati para pemodal sebagai media perlindungan terhadap dampak inflasi. Kendati demikian, lonjakan tingkat bunga acuan dapat mengikis daya pikat emas lantaran memicu peningkatan biaya peluang atas pemilikan aset non-imbal hasil.
Ancaman terhadap pergerakan emas juga bersumber dari arah panduan kebijakan bank sentral AS. Rangkuman perundingan Juli memperlihatkan bahwasanya deretan pejabat masih mencemaskan tekanan laju inflasi dan sebagian dari mereka tetap membuka peluang terhadap penyesuaian suku bunga lebih lanjut.
Berdasarkan indikator CME FedWatch Tool, para pelaku pasar memperkirakan peluang bank sentral AS dalam mempertahankan tingkat bunga pada sidang September berada pada kisaran 67,4%.
Pada belahan sektor lain, komoditas minyak terus menanjak hingga menyentuh kisaran tertinggi dalam waktu lebih dari tiga pekan. Kebuntuan jalur diplomasi terkait konflik Iran memperbesar kekhawatiran atas potensi hambatan pasokan energi dari wilayah Timur Tengah.
Pihak Morgan Stanley memproyeksikan bahwasanya nilai emas masih menyimpan peluang untuk melanjutkan fase kenaikan. Lembaga perbankan tersebut menilai nilai emas berpeluang menembus level US$ 5.000 per troy ons pada tahun 2027 atau bahkan bisa lebih cepat bilamana bank sentral AS tetap menahan tingkat bunga acuan saat ini.
“Dengan perkiraan para ekonom AS bahwa The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga saat ini, kami melihat peluang bagi harga emas untuk melampaui US$ 5.000 per ons pada tahun 2027, atau bahkan lebih awal,” kata pengamat dari Sumbernya dalam sebuah catatan.
Namun, pihak Morgan Stanley memberikan peringatan bahwa dinamika perjalanan emas menuju kisaran harga tersebut tetap berisiko diwarnai oleh tingkat gejolak yang tinggi.
Sementara itu, pergerakan instrumen logam mulia yang lain juga bervariasi. Nilai perak di pasar fisik menanjak 1,9% menuju level US$ 68,16 per troy ons. Logam platinum terpantau stabil di kisaran US$ 1.824,72 per troy ons, sedangkan komoditas paladium melemah tipis 0,1% ke posisi US$ 1.330,74 per troy ons.