Pentingnya Independensi BI Terhadap Kestabilan Nilai Tukar Rupiah Kita
JAKARTA - Pakar ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda berpendapat otonomi Bank Indonesia (BI) menjadi pilar akhir guna merawat kestabilan kondisi ekonomi nasional.
“Ketika fiskal kami ini buruk pengelolaannya … seharusnya ada pengawal terakhir yang itu dipegang oleh otoritas moneter yang tidak boleh diintervensi siapa pun dan apa pun,” kata Nailul dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Sesuai penjelasan Nailul, netralitas BI amat vital agar otoritas moneter sanggup menjalankan tugas memelihara kedaulatan moneter dan nilai mata uang tanpa adanya tekanan atas kepentingan kebijakan fiskal rezim.
Ia menyebutkan riwayat banyak negara membuktikan bahwasanya kebergantungan bank sentral terhadap rezim mampu menghadirkan permasalahan sewaktu langkah moneter dipakai untuk mendukung kebutuhan anggaran.
Nailul memaparkan penegasan independensi bank sentral adalah bagian dari pembelajaran atas beraneka krisis ekonomi yang terjadi sejak era seusai Perang Dunia.
Menurut dia, pada masa itu beberapa bank sentral masih berada dalam dominasi pemerintah sebab dibutuhkan untuk menunjang pembiayaan pembangunan dan pemulihan perekonomian pascaperang.
Namun, pengalaman inflasi yang tinggi kemudian memicu pergeseran pandangan menuju keberadaan bank sentral yang lebih mandiri.
Indonesia, ucap dia, juga melewati perubahan itu setelah hempasan krisis ekonomi 1997-1998.
Pengokohan otonomi BI tersebut kemudian dituangkan melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang berikutnya mengalami penyesuaian pada 2004.
Nailul menilai independensi tersebut makin vital seiring terbukanya arus dana.
Menurut dia, di saat arus dana bisa berpindah keluar dan masuk secara cepat, otoritas moneter memerlukan kredibilitas untuk memelihara stabilitas moneter beserta kurs.
Ia pun mengingatkan potensi bahaya bilamana kebijakan moneter terlalu diarahkan untuk menopang kebutuhan anggaran pemerintah.
Kondisi demikian, menurut dia, mampu memicu kekhawatiran pasar atas kredibilitas langkah yang diambil dan pada akhirnya mendorong arus modal keluar.
Seterusnya, Nailul mengingatkan bahwasanya tekanan fiskal yang tidak dikelola secara bijak dapat memengaruhi kepercayaan terhadap nilai rupiah.
Di kala tingkat kepercayaan terhadap mata uang dalam negeri memburuk, publik maupun investor bisa memindahkan aset mereka ke valuta asing hingga menaikkan tekanan terhadap nilai tukar.
Ia berharap jajaran pemimpin BI kelak tetap bisa menjaga netralitas bank sentral dari berbagai intervensi pemerintah atau kepentingan kebijakan jangka pendek.