Prospek Penguatan Rupiah Diprediksi Menguat Hingga Akhir Tahun 2026
JAKARTA - Beban atas mata uang rupiah menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bakal menyusut mendekati penghujung tahun 2026.
Peluang kestabilan valuta garuda ini disokong oleh perpaduan sentimen pemulihan di ranah global serta penyesuaian keseimbangan eksternal dari dalam negeri.
Informasi terkini, rupiah ditutup melesat pada transaksi Kamis (20/8) kemarin.
Rupiah naik 92 poin atau 0,52% menjadi Rp17.748 tiap dolar AS di tengah dinamika global yang masih diselimuti ketidakpastian akibat gesekan dan krisis di Selat Hormuz.
Chief Economist Citi Indonesia, Helmi Arman menerangkan, bahwa perbaikan pemikiran eksternal menjadi pemicu utama yang sanggup meringankan tekanan valuta garuda di bursa keuangan.
Salah satu pendorong global yang amat bermakna bersumber dari tren kemerosotan harga komoditas energi dunia seiring potensi penurunan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjelang pemilu sela di AS.
"Untuk faktor-faktor globalnya, kami melihat tren harga minyak dunia terhadap kuartal II sedang bergerak turun seiring ekspektasi deeskalasi ketegangan di Timur Tengah. Bila arus perdagangan di Selat Hormuz kembali lancar, pasar minyak dunia diperkirakan mengalami surplus pasokan sekitar 4 juta barel per hari pada 2027 dengan pasokan yang melampaui permintaan," ujar Helmi dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (20/8).
Di samping harga minyak, pemicu eksternal kedua berkaitan dengan imbal hasil (yield) US Treasury, utamanya durasi pendek, yang diproyeksikan bergerak meliuk landai sampai penghujung tahun.
Meski sempat terkatut premi risiko dalam 1–2 bulan belakangan akibat kecemasan lonjakan suku bunga acuan, Citi meyakini Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan bunga dan justru berpeluang memangkasnya sebelum akhir tahun.
Sikap tersebut dilandaskan pada tingkat inflasi inti AS yang bergerak perlahan dari posisi 2,5 persen menuju kisaran 2,2 hingga 2,3% lantaran surutnya permintaan konsumen.
Walaupun pertumbuhan ekonomi AS secara menyeluruh tergolong kokoh, ekspansi tersebut lebih banyak disokong oleh lonjakan investasi kecerdasan buatan, sementara sektor konsumsi publik cenderung menurun.
Penyusutan indeks dolar AS (DXY) di bursa internasional dinilai ikut memperkuat kans bertahannya apresiasi nilai tukar rupiah atas mata uang Negeri Paman Sam.
Arah koreksi dolar AS tersebut dipicu oleh perbedaan kebijakan suku bunga antarnegara maju serta ketahanan surplus neraca dagang mitra strategis dunia.
"Faktor global lain yang mendukung meredanya tekanan terhadap rupiah adalah perkiraan pelemahan indeks dolar terhadap euro dan yuan China. Ini disebabkan Bank Sentral Eropa (ECB) yang diperkirakan menaikkan suku bunga pada September saat The Fed berpeluang menurunkan bunga, serta kuatnya surplus transaksinberjalan China yang melebihi 3 persen PDB," pasar Helmi.
Dari aspek domestik, pelemahan mata uang rupiah yang berjalan sejak akhir tahun lalu secara tak langsung menyumbang efek penyeimbang bagi neraca pembayaran.
Pelemahan nilai tukar tersebut mengakibatkan besaran dividen modal asing yang dikirimkan kembali ke luar negeri menjadi lebih kecil tatkala diubah ke dalam bentuk dolar AS.
Pengaruh penurunan kurs terhadap pemangkasan jumlah dana keluar dianggap manjur menekan defisit transaksi berjalan nasional.
Helmi menandaskan mengenai menyusutnya repatriasi dividen perusahaan asing bakal menjadi pemicu vital bagi pemulihan indikator luar negeri Indonesia.
"Rupiah yang melemah berarti dividen investasi asing yang direpatriasikan ke luar negeri dalam satuan dolar jadinya lebih kecil dan tidak sebanyak sebelumnya. Jadi ini menjadi salah satu faktor internal yang akan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan Indonesia di kuartal III," urai Helmi.