Mata Uang Rupiah Sukses Menguat 0,48% Dolar AS Tertekan ke Rp17.740/US$

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 21 Agustus 2026
Mata Uang Rupiah Sukses Menguat 0,48% Dolar AS Tertekan ke Rp17.740/US$
Mata Uang Rupiah Sukses Menguat 0,48% (FOTO: NET)

JAKARTA - Pergerakan kurs rupiah tampil sangat perkasa berhadapan dengan dolar Amerika Serikat (AS) dalam penutupan transaksi hari ini.

Mata uang nasional melanjutkan dominasi penguatannya beriringan dengan melesunya performa dolar di pasar global.

Mengutip data Refinitiv, pada sesi penutupan perdagangan Kamis (20/8/2026), nilai tukar rupiah terkerek 0,48% ke posisi Rp17.740/US$.

Loncatan harga tersebut memperpanjang catatan positif rupiah menjadi dua hari berturut-turut.

Pada Rabu (19/8/2026), mata uang Garuda diakhiri menanjak 0,14% menuju peringkat Rp17.825/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,08% ke posisi 98,760.

Langkah penurunan tersebut melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, ketika DXY ditutup ambruk 0,83%.

Indeks dolar pun bergerak di sekitar posisi terendahnya dalam tiga bulan terakhir.

Mata uang rupiah mengantongi dorongan segar akibat tertekannya dolar AS usai pemerintah negara tersebut mengeluarkan opsi guna meredam pergerakan tajam di pasar obligasi.

Departemen Keuangan AS berencana menggandakan operasi pembelian kembali obligasi berjangka panjang guna menjaga likuiditas pasar.

Keputusan ini keluar setelah gelombang penjualan memaksa imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak hingga 5,337%, titik tertinggi semenjak tahun 2007.

Usai pengumuman tersebut, imbal hasil berangsur turun ke sekitar 5,184%.

Turunnya imbal hasil mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Kendati demikian, para pelaku pasar tetap mencermati risalah rapat bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang menunjukkan sejumlah pejabat masih membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi belum kembali menuju target 2%.

Di sisi lain, ketetapan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75% turut memberikan kepastian bagi pasar mengenai arah kebijakan moneter.

Gubernur sementara BI Destry Damayanti menegaskan nilai tukar rupiah ke depan diperkirakan tetap stabil seiring dengan upaya bank sentral mengoptimalkan instrumen moneternya.

"BI menempuh strategi menjaga stabilitas nilai tukar. Ke depan nilai tukar stabil didukung penguatan stabilisasi BI," kata Destry, Rabu (19/8/2026).

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua