Keyakinan Dolar AS Menyusut Mata Uang Rupiah Melonjak Tajam Hari Ini

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 21 Agustus 2026
Keyakinan Dolar AS Menyusut Mata Uang Rupiah Melonjak Tajam Hari Ini
Keyakinan Dolar AS Menyusut Mata Uang Rupiah Melonjak (FOTO: NET)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah melonjak bersama sebagian besar mata uang Asia. Pada Kamis (20/8), nilai rupiah pada pasar spot menanjak Rp 92 atau 0,52% ke posisi Rp 17.748 per dolar Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar rupiah Jisdor menanjak Rp 65 atau 0,36% ke posisi Rp 17.779 per dolar AS.

Mata uang rupiah melonjak dua hari berturut-turut seusai Bank Indonesia (BI) mempertanyakan suku bunga acuan BI Rate pada angka 5,75%.

Hasil obligasi Indonesia tenor 5 tahun meluncur ke level paling rendah selama lebih dari dua bulan pasca keputusan BI Rate.

Plt Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti yang saat ini juga menjadi calon tunggal, kembali menegaskan bahwa kebijakan moneter akan terus berfokus pada mata uang dan memperluas skema insentif lindung nilai untuk menarik lebih banyak arus masuk dana.

Rupiah mendominasi penguatan mata uang Asia.

Selain rupiah, lonjakan terjadi pula pada ringgit Malaysia yakni 0,39%.

Peso Filipina naik 0,26%.

Baht Thailand naik 0,21%.

Yuan China naik 0,13%.

Rupee India naik 0,06%.

Dolar Taiwan naik 0,05%.

Dolar Singapura naik 0,04%.

Tiga mata uang Asia justru terkoreksi pada transaksi perdagangan hari ini.

Won Korea tertekan 0,42%.

Yen Jepang tertekan 0,09%.

Dolar Hong Kong tertekan 0,03%.

Indeks dolar yang menggambarkan nilai tukar dolar AS pada mata uang utama dunia merosot 0,22% menjadi 98,62.

Penurunan dua hari pamungkas mengakibatkan indeks dolar tersangkut di bawah level 99.

Kelesuan dolar AS yang berlangsung belakangan diakibatkan oleh dampak langkah pemerintah guna menahan lonjakan biaya bunga AS.

Para pelaku pasar menganggap tindakan ini sebagai titik balik.

Pemerintah AS mengambil porsi yang lebih aktif guna menjaga biaya pinjaman tetap rendah.

Langkah untuk membatasi hasil jangka panjang yang sebelumnya menembus level tertinggi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, memicu kecemasan bahwa regulasi AS dapat merusak kepercayaan terhadap dolar serta mendorong pemodal mencari investasi alternatif.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua