Kartu Kredit Indonesia Resmi Diluncurkan Untuk Membantu Masyarakat
JAKARTA - Otoritas moneter negara bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) memperkenalkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) kategori ritel bagi perorangan serta perusahaan sebagai alat pembayaran tertunda (deferred payment) lokal.
Pimpinan Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Ryan Rizaldy menyampaikan, KKI ritel disediakan guna merangkul kelompok pemakai fasilitas kredit dari kalangan pemuda yang semakin menguasai ranah transaksi nontunai.
"Paling tidak pangsa masyarakat yang saat ini memang akhir-akhir ini terutama yang digerakkan oleh generasi Z dan generasi milenial, pengguna sumber dana kredit ini bisa masuk ke dalam KKI segmen ritel ini," ujar Ryan di Gedung BI, Jakarta Pusat, Senin (17/8).
Ryan menerangkan, di fase permulaan, KKI diterbitkan berupa kartu elektronik guna kebutuhan transaksi QRIS pemindaian (scan) ataupun QRIS tanpa sentuh (tap).
Ryan menimpali peningkatan fasilitas KKI dijalankan lewat beberapa jenjang, diawali dari sarana pembayaran QRIS, dilanjutkan pembayaran dalam jaringan (online payment), hingga pencetakan kartu fisik.
Di fase awal, perilisan KKI dikerjakan oleh beberapa Penyelenggara Jasa Pembayaran (PJP), yaitu BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, CIMB Niaga, Permata Bank, Bank Mega, dan BSI bagi sistem pembiayaan syariah.
Di momen serupa, Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengungkapkan, kemunculan KKI ritel merupakan bentuk kemandirian sistem pembayaran dalam negeri sekaligus sarana penyokong daya beli warga di tengah ketidakpastian finansial dunia.
Destry memaparkan, penerapan KKI menjadi opsi instrumen deferred payment lokal yang hemat, berhati-hati, dan terhubung bersama sarana sistem pembayaran dalam negeri.
"Kehadiran skema domestik ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk masuk dalam ekosistem digital dan menyediakan alternatif fasilitas kredit untuk menopang konsumsi masyarakat," tutur Destry.
Di sisi lain, Ketua ASPI Santoso Liem mengandai-andaikan, kemunculan KKI yang tersambung dengan QRIS berpeluang memindahkan porsi transaksi kartu kredit biasa menuju sistem lokal sampai 10 persen. Waktu ini, porsi pasar kartu kredit pada sektor industri tercatat menyisa kurang lebih 15 persen sejalan maraknya pemakaian QRIS.
"Jadi kami harapkan dengan kartu kredit KKI ini sudah mulai di-introduce dengan QRIS, kami harapkan di antara 15 persen itu, mungkin 10 persen akan pindah," jelas Santoso.