Tantangan Likuiditas Perbankan Nasional dan Strategi Menghadapinya

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 20 Agustus 2026
Tantangan Likuiditas Perbankan Nasional dan Strategi Menghadapinya
Suasana Dealing Room SBN di Bank Negara Indonesia (BNI) (FOTO: NET)

JAKARTA - Sektor perbankan kembali berhadapan dengan kendala likuiditas pada paruh kedua tahun ini.

Diberlakukan beragam trik supaya peran penyaluran dana bank tetap berputar tanpa hambatan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, perbandingan pinjaman atas simpanan (loan to deposit ratio/LDR) sektor perbankan menyentuh angka 88,32% pada Juni 2026, merangkak naik dibanding 86,4% di durasi sejenis tahun lalu.

Memiliki makna, ketersediaan dana perbankan pada pertengahan tahun ini terbilang lebih terbatas.

Keadaan likuiditas yang terbatas turut tampak pada Bank Mandiri.

Sampai Juli 2026, angka LDR Bank Mandiri (bank only) berada pada 94,76%.

Tidak mengherankan, pembiayaan bank memang melaju lebih cepat dibanding dana pihak ketiga (DPK).

Di mana, pembiayaan Bank Mandiri mekar 19,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 1.595,85 triliun sedangkan DPK mekar 18,48% yoy menjadi Rp 1.684,07 triliun.

Daya likuiditas Bank Mandiri pun berpotensi makin terbatas seusai simpanan saldo anggaran lebih (SAL) diambil kembali oleh pihak pemerintah pada September 2026 mendatang.

Namun level LDR yang telah tinggi tampaknya memicu Bank Mandiri menyiapkan modal dari jalan lain guna membendung penarikan saldo SAL.

Kepemilikan obligasi yang dipegang Bank Mandiri menyusut 12,79% yoy menjadi Rp 222,46 triliun di Juli 2026 dan pada momen sejenis obligasi yang ditransaksikan secara repo melonjak 166,83% yoy menjadi Rp 126,91 triliun.

Bila mencermati pengaruhnya terhadap penerimaan bank, hingga Juni 2026 hasil bunga Bank Mandiri dari modal selain pembiayaan juga terlihat merosot 10,74% yoy menjadi Rp 13,27 triliun.

Di lain pihak, beberapa bank non-pemerintah turut menjumpai cobaan likuiditas serupa.

Umpamanya CIMB Niaga lewat rekap LDR pada rentang 91% per Juni 2026.

Pada durasi ini, obligasi yang dipegang bank juga berkurang nilainya sejumlah 6,9% yoy menjadi Rp 69,99 triliun, namun obligasi yang direpo melesat 136,21% yoy menjadi Rp 20,5 triliun.

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengutarakan, pihaknya berusaha mempertahankan LDR pada kisaran 85%–90%.

Guna menstabilkan ketersediaan dana, sebenarnya bank tetap berfokus terhadap pengumpulan DPK, utamanya pada dana murah (current account saving account/CASA).

Hal itu terlihat dari peningkatan CASA yang mencapai 6,7% yoy menjadi Rp 192,74 triliun dalam durasi ini, sedangkan di saat bersamaan simpanan berjangka melorot 6,19% yoy menjadi Rp 76,22 triliun.

Meski begitu, sosok tersebut tidak memungkiri bahwa opsi pendanaan lain, termasuk repo, tetap dipupuk guna berjaga-jaga.

Cuma saja, jumlahnya tergolong tidak besar.

“Sedikit karena bukan sumber likuiditas utama,” tutur Lani kepada Sumbernya, Selasa (18/8/2026).

Mengenai dampaknya terhadap penerimaan bank, dalam durasi ini CIMB Niaga mengantongi hasil bunga dari modal selain pembiayaan sebesar Rp 3,62 triliun atau merosot 10,95% yoy.

Keadaan likuiditas KB Bank juga tidak jauh berbeda.

Sampai Juni 2026, level LDR KB Bank terdaftar pada 98,67%.

Dalam durasi ini pinjaman bank mekar 4,37% yoy menjadi Rp 44,96 triliun, namun modal obligasi yang dipegang bertambah nilainya 14,39% yoy menjadi Rp 19,97 triliun.

Meskipun begitu, Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie menegaskan posisi modal cair bank masih memadai, lewat porsi terbesar modal cair tetap tersedia dalam wujud instrumen yang dapat difungsikan sesuai keperluan.

Sosok tersebut menyambungkan, hingga Juli 2026, level repo terdaftar sebesar 10,3% dari total modal cair bank.

Nantinya, Kunardy menegaskan pihaknya akan terus memelihara likuiditas secara bijak dan memaksimalkan opsi pendanaan.

“Ini dilakukan untuk memastikan kemampuan bank dalam mendukung penyaluran kredit tetap terjaga,” katanya.

Dalam mengalirkan pinjaman, KB Bank juga akan tetap mementingkan perkembangan yang sehat serta berkualitas lewat pertimbangan keadaan pendanaan, pergerakan beban dana, mutu modal, hingga gambaran risiko.

Melalui trik tersebut, bank berikhtiar menjaga keseimbangan antara perkembangan pinjaman dan pemeliharaan likuiditas secara berkesinambungan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua