Strategi India Merombak Aturan Pasar Modal Demi Gaet Pemodal Global

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 20 Agustus 2026
Strategi India Merombak Aturan Pasar Modal Demi Gaet Pemodal Global
Strategi India Merombak Aturan Pasar Modal (FOTO: NET)

MUMBAI - India kini mempersiapkan perombakan menyeluruh pada sektor bursa modal untuk menghentikan laju hengkangnya dana asing sekaligus mendongkrak daya pikat pasar domestik untuk pemodal internasional.

Badan pengawas pasar modal India, Securities and Exchange Board of India (SEBI), merencanakan perubahan sejumlah regulasi yang telah diterapkan berpuluh-puluh tahun.

Melansir dari Sumbernya (20/8), upaya tersebut dieksekusi di tengah proporsi kepemilikan investor asing di saham India yang menyentuh angka terendah dalam kurun 17 tahun.

Dalam kurun waktu bersamaan, mata uang rupee telah tergerus mendekati 6% sepanjang tahun ini dan menjadi salah satu valuta berkinerja paling buruk di wilayah Asia, tertekan kecemasan atas melambungnya ongkos impor dan lesunya aliran modal asing.

Sejumlah pihak yang mengetahui pembicaraan itu menyebutkan perombakan SEBI antara lain meliputi penurunan batas agunan untuk transaksi saham tunai dan mendorong pemanfaatan kontrak derivatif berdurasi lebih panjang.

SEBI mematok target penyesuaian tersebut dapat diimplementasikan dalam tempo sekitar sembilan bulan mendatang setelah melalui proses diskusi bersama pelaku pasar.

Langkah perombakan ini juga disiapkan guna melengkapi agenda SEBI dalam memperdalam ekosistem pasar saham tunai.

Pihak regulator berencana mempermudah kegiatan short selling serta melipatgandakan total saham yang dapat dimasukkan ke dalam sistem pinjam-meminjam saham.

Tekanan pada bursa India terlihat nyata melalui pemangkasan porsi negara tersebut pada indeks bursa negara berkembang MSCI.

Proporsi India saat ini jatuh ke bawah 12%, merosot jauh apabila dibandingkan puncak porsinya sebesar 21% pada September 2024.

Di sisi lain, aksi pelepasan saham India oleh pemodal asing menembus lebih dari US$ 50 miliar sepanjang periode Oktober 2024 hingga Juni 2026.

Para pemodal asing telah lama menuntut adanya penyesuaian regulasi agar ekosistem bursa India lebih selaras dengan pasar utama Asia seperti China, Korea Selatan dan Taiwan.

Bursa-bursa bersangkutan dinilai telah memiliki sistem securities lending and borrowing serta mekanisme lelang penutupan yang jauh lebih matang.

Penyedia indeks internasional MSCI turut mengamati tingkat efektivitas dari perombakan tersebut.

MSCI menilai penentuan harga penutupan, efisiensi pemenuhan margin dan agunan, mekanisme pinjam saham, short selling serta instrumen proteksi nilai sebagai elemen vital dalam mengukur kemudahan akses pasar India bagi investor institusional dunia.

Salah satu penyesuaian yang menyedot perhatian ialah penurunan batas kebutuhan jaminan untuk transaksi pada saham-saham yang sangat likuid.

Rencana kebijakan ini berpotensi menekan kebutuhan modal awal pada rentang 15% sampai 20%.

SEBI juga sedang mengkaji pemangkasan jaminan awal terhadap kontrak derivatif yang memiliki tenor di atas satu tahun.

Rencana kebijakan tersebut diharapkan dapat menekan tingkat ketergantungan bursa India atas aktivitas perdagangan derivatif jangka pendek.

Saat ini, instrumen derivatif bertenggat panjang di India memiliki tingkat likuiditas yang amat dangkal, sehingga menyulitkan pelaku investasi yang membutuhkan instrumen proteksi nilai jangka panjang.

Upaya menggaet kembali investor institusi menjadi krusial sebab investor ritel hingga kini masih menguasai dominasi transaksi derivatif di India.

Data dari bursa memperlihatkan investor ritel memberi kontribusi lebih dari 35% pergerakan transaksi di India, bila dibandingkan dengan kisaran 20% di Amerika Serikat.

Meski demikian, agenda perombakan ini bukannya tanpa kendala.

Pengaplikasian prosedur baru dalam menetapkan harga penutupan saham di awal Agustus sempat memicu fluktuasi tajam pada pergerakan indeks Nifty 50 dan Sensex.

SEBI bahkan belum lama ini mengeksekusi tindakan terhadap dua entitas yang diduga melakukan manipulasi perdagangan dalam prosedur lelang penutupan itu.

Walaupun menyimpan potensi gejolak pada jangka pendek, pembenahan pasar dianggap mampu mengikis kendala transaksi dan menjadikan bursa India lebih terbuka bagi pemodal global.

Namun, beberapa pelaku bursa berpandangan bahwa sekadar pergeseran aturan belum memadai untuk menciptakan lonjakan signifikan pada arus investasi pasif asing menuju India.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua