FTSE dan MSCI Hambat Pasar Indonesia, Haruskah Investor Asing Pergi?

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 20 Agustus 2026
FTSE dan MSCI Hambat Pasar Indonesia, Haruskah Investor Asing Pergi?
FTSE dan MSCI Hambat Pasar Indonesia (FOTO: NET)

JAKARTA - Langkah penyedia indeks dunia, yakni FTSE Russell yang kembali menunda penambahan emiten baru dari tanah air berpotensi menahan masuknya dana pemodal asing ke Bursa Efek Indonesia (BEI), khususnya dari investor pasif atau passive fund.

Pada 18 Agustus 2026, FTSE Russell memperpanjang masa penundaan penambahan emiten baru dari bursa tanah air serta mayoritas perubahan klasifikasi indeks sampai sekurang-kurangnya Desember 2026.

Langkah ini diambil guna memberikan ruang waktu pengamatan pada pembenahan pasar.

Merespons pengumuman itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menyampaikan pihaknya bakal terus menjalin komunikasi bersama seluruh Global Index Provider demi menjawab seluruh perhatian dari pemodal dunia serta meningkatkan integritas dan governance pasar.

“Sejak penerapan empat tindakan reformasi transparansi Pasar Modal Indonesia, BEI terus melakukan continuous improvement atas reformasi transparansi tersebut,” terangnya dari Sumbernya, Rabu (19/8/2026).

Pada 15 Juli 2026, BEI menyertakan Price Impact Ratio sebagai satu di antara metodologi guna penentuan emiten yang masuk pada High Shareholding Concentration (HSC).

Jeffrey menyampaikan hal ini membantu efektivitas untuk mendongkrak sisi tradeability pada proses replikasi indeks.

“BEI juga saat ini melihat potensi untuk dapat menggabungkan informasi afiliasi dengan laporan disclosure informasi pemegang saham di atas 1% untuk meningkatkan informasi dan transparansi kepada seluruh pelaku pasar,” ungkap dia.

Pada transaksi Rabu (19/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) usai dengan melemah 0,86% atau 55,70 poin ke posisi 6.394,13.

Keadaan tersebut memperlihatkan respons penyedia indeks dunia masih menjadi fokus pemodal.

Terlebih, MSCI baru saja mengeluarkan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) serta PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dari MSCI Global Standard Index pada evaluasi atau rebalancing Agustus 2026.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menerangkan MSCI dan FTSE Russell merupakan gerbang utama bagi pemodal dunia menuju pasar emiten tanah air.

“Karena seperti yang kami ketahui, pintu masuk investor global adalah dari MSCI dan FTSE. Sehingga apabila semakin banyak saham dikeluarkan, tentu semakin sedikit dana inflow yang masuk,” ungkapnya dari Sumbernya, Rabu (19/8/2026).

Berdasarkan Nico, keputusan penyedia indeks tersebut berpeluang mengurangi daya pikat tanah air bagi pemodal dunia lantaran kian sedikit emiten domestik yang memenuhi kriteria investasi mereka.

Akan tetapi, aliran modal pun dipengaruhi faktor dalam negeri.

Nico menyampaikan kebijakan fiskal dan moneter serta kondisi politik dalam negeri ikut menentukan seberapa besar pemodal asing bersedia menempatkan dananya ke pasar emiten tanah air.

Oleh sebab itu, perbaikan pasar menjadi poin krusial.

“Sedikit atau banyak, kehadiran pelaku pasar dan investor asing di Indonesia memberikan dampak dan pengaruh. Ketika asing keluar, IHSG juga langsung mengalami penurunan secara dalam,” paparnya.

Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menimpali keputusan FTSE Russell memang bernilai negatif pada foreign flow, namun efeknya mesti dipisahkan antara berkurangnya arus dana pasif dan terhentinya pemodal asing mengoleksi emiten tanah air.

Dia menyampaikan pemodal pasif atau index-tracking fund menjadi kelompok yang paling terdampak lantaran mengemban mandat mengekor indeks acuan.

Penundaan penyesuaian indeks secara otomatis melenyapkan potensi permintaan mekanis pada emiten tanah air.

“Keputusan FTSE ini jelas menjadi sentimen negatif bagi aliran dana asing ke BEI dalam jangka pendek, tetapi jangan langsung diterjemahkan bahwa seluruh investor asing melakukan sell-off,” tutur Edwin.

Malah sebaliknya, pemodal aktif masih memiliki ruang gerak menentukan emiten berdasar penilaian, pertumbuhan laba, kesehatan neraca serta prospek sektor.

Artinya, pemodal asing tetap berpeluang masuk jika mendapati peluang investasi yang menjanjikan.

Meski begitu, Edwin mengingatkan masalah dapat kian berat jika penundaan FTSE bertahan hingga penutup tahun dan berjalan berbarengan dengan pembekuan perubahan indeks oleh MSCI.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat bergeser dari isu teknikal jangka pendek menjadi isu persepsi struktural terhadap investability tanah air.

Pemodal dunia berpotensi meragukan keterbukaan, likuiditas, tata kelola, serta aksesibilitas pasar domestik.

“Masalahnya bukan sekadar apakah asing masih mau membeli saham Indonesia, tetapi berapa besar return premium yang harus ditawarkan Indonesia agar investor global bersedia mengambil risiko Indonesia,” kata Edwin.

Edwin menilai status tanah air sebagai emerging market tetap memberi landasan positif, namun predikat tersebut tidak serta-merta menjamin kenaikan porsi pemodal dunia.

Pemodal tetap memegang banyak opsi negara di dalam portofolio pasar berkembang.

Maka, Edwin menganjurkan pemodal tidak terburu-buru mengambil sikap all in maupun all out.

Pemodal jangka pendek sebaiknya menunggu kepastian arus dana, sedangkan pemodal jangka menengah bisa mencicil emiten dengan fundamental kokoh.

Untuk pemodal jangka panjang, Edwin menyarankan perhatian lebih besar ditujukan pada pertumbuhan keuntungan, arus kas, profitabilitas, neraca, penilaian dan tata kelola perusahaan.

Kondisi tersebut tetap menjadi fondasi utama dalam menetapkan nilai emiten.

Sementara itu, untuk jangka panjang, Nico menilai risiko bagi IHSG bisa kian membesar apabila tanah air terus kehilangan daya pikat di mata pemodal dunia.

Menurutnya, IHSG turut mencerminkan tingkat kepercayaan pada prospek ekonomi tanah air.

Nico memproyeksikan IHSG masih melaju dalam kisaran 6.390–7.470 sepanjang 2026.

Pemodal dianjurkan mengamati dinamika transformasi pasar modal tanah air serta beragam kebijakan yang dapat memengaruhi tindakan pemodal dunia.

“Investor sebaiknya wait and see dan memperhatikan situasi dalam negeri, terutama transformasi pasar modal yang ikut menentukan seberapa jauh capital inflow mulai terjadi,” ujat dia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua