Rupiah Menguat Tipis Rp17.860 BI-Rate 5,75 Persen Diprediksi Bertahan

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 19 Agustus 2026
Rupiah Menguat Tipis Rp17.860 BI-Rate 5,75 Persen Diprediksi Bertahan
Rupiah Menguat Tipis Rp17.860 (FOTO: NET)

JAKARTA - Kurs nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merangkak naik tipis saat pembukaan sesi perdagangan Rabu (19/8/2026), sebelum pengumuman hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Mata uang rupiah terangkat 2 poin atau setara 0,01 persen menuju posisi Rp17.860 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan di hari sebelumnya yaitu Rp17.862 per dolar AS.

Dinamika rupiah ini terjadi di tengah antisipasi para pelaku pasar terhadap arah penetapan suku bunga acuan BI-Rate oleh pihak otoritas moneter.

Beberapa analis ekonomi memproyeksikan BI bakal tetap menahan BI-Rate pada besaran 5,75 persen.

Permata Institute for Economic Research (PIER) memprediksikan BI bakal mempertahankan besaran BI-Rate di level 5,75 persen pada agenda RDG BI Agustus 2026 yang rilis resminya disampaikan Rabu siang.

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menyebutkan ada beberapa alasan yang melandasi estimasi tersebut.

Di antaranya adalah tingkat inflasi dalam negeri yang sanggup ditekan kembali hingga di bawah angka 3 persen. Di samping itu, pergerakan arus modal asing yang masuk juga terus memperlihatkan pemulihan sehingga ikut menjaga kekukuhan nilai rupiah.

Faktor luar negeri turut memberikan keleluasaan bagi BI untuk tidak mengubah besaran suku bunga.

Proyeksi atas pengetatan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada masa dekat kian meredup menyusul rilis indikator ekonomi AS yang memperlihatkan indikasi perlambatan.

"Ke depan, kami masih melihat di sisa tahun 2026, BI akan cenderung mempertahankan BI-Rate meski kami tidak me-rule out kemungkinan naik jika kondisi global secara tak terduga memburuk sangat signifikan," kata Faisal dikutip dari Sumbernya.

Pandangan dari PIER ini sehaluan dengan temuan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI).

LPEM FEB UI pun memproyeksikan BI-Rate bakal bergeming pada angka 5,75 persen.

Pertimbangan utamanya ialah tekanan kawasan luar negeri yang belakangan mulai mengendur, terkhusus usai gesekan geopolitik di kawasan Timur Tengah tidak berujung pada eskalasi hebat sepanjang kurun beberapa pekan belakangan.

Situasi tersebut menjadikan BI dinilai masih memiliki kelonggaran dalam mempertahankan tingkat suku bunga tanpa mesti menaikkannya kembali guna membentengi nilai kurs.

Laju inflasi memegang peran vital dalam membentuk ruang gerak dari kebijakan BI.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata bahwasanya tingkat inflasi pada Juli 2026 melambat menuju kisaran 2,88 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan pencapaian 3,34 persen pada Juni 2026.

Laju inflasi yang kembali menyusut hingga di bawah 3 persen menyajikan keleluasaan bagi BI demi mempertahankan besaran suku bunga.

Kendati demikian, LPEM FEB UI memberi peringatan bahwa potensi lonjakan inflasi bisa saja kembali membumbung pada kurun beberapa bulan mendatang.

Ancaman iklim El Nino serta siklus musim kemarau diprediksikan bakal mendapati puncaknya sepanjang Agustus hingga September 2026. Keadaan ini berpotensi mengganggu harga berbagai jenis bahan pokok dan memicu laju inflasi.

Bukan cuma isu inflasi, dinamika aliran modal pun memberikan sokongan bagi daya tahan rupiah.

LPEM FEB UI mengonfirmasi bahwa Indonesia berhasil menyerap masuknya aliran modal luar negeri sebesar 280 juta dolar AS terhitung sejak akhir Juli sampai 13 Agustus 2026.

Aliran modal ini mencakup senilai 240 juta dolar AS yang mengalir ke instrumen surat berharga negara serta sebesar 40 juta dolar AS yang masuk ke arena pasar modal.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua