Analis Memprediksi BNI dan Mandiri Untung Karena Aturan Likuiditas BI
JAKARTA - Peneliti Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nurkholis Syafruddin menyatakan BNI dan Mandiri memperoleh keuntungan dari diberlakukannya Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) pada 1 September 2026.
“Dari aturan reserve requirement (Giro Wajib Minimum/GWM) yang baru ini akan berpotensi untuk membuat BNI dan Mandiri itu diuntungkan,” ujar Nurkholis ketika memberikan paparannya di Jakarta, Selasa.
Bank Indonesia (BI) menyediakan kelonggaran untuk perbankan yang merawat proporsi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) nonrepo terhadap jumlah dana simpanan di bawah 19 persen, demi menangani fragmentasi likuiditas di pasar keuangan.
Kelonggaran ini menjadi bagian dari perbaikan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang dihadiahkan via pemotongan giro perbankan di BI.
Jika perbankan merawat proporsi kepemilikan SBN dan SRBI nonrepo terhadap jumlah dana simpanan di bawah 19 persen, maka perbankan bakal mendapatkan kelonggaran tertinggi sebesar 2 persen atau 200 basis poin (bps) dari dana pihak ketiga (DPK).
Sebaliknya, jika proporsi kepemilikan SBN dan SRBI non-epo terhadap jumlah dana simpanan menyentuh atau melampaui 19 persen, maka perbankan tak dapat memperoleh kelonggaran.
Kelonggaran ini dinamakan KLM Pendalaman Pasar Uang (PPU) yang menggeser KLM interest rate channel serta financing to funding channel.
Penerapan KLM dijalankan via penyaluran kelonggaran likuiditas melalui pemotongan giro perbankan di Bank Indonesia demi pemenuhan kewajiban GWM secara rata-rata.
“Jika melihat porsi 19 persen ke bawah, itu akan ada di BNI dan Mandiri. Sedangkan, kalau BCA itu berpotensi tidak memenuhi syarat karena untuk porsi dari government bond dan SRBI terhadap deposit itu di atas porsi 19 persen,” ucap Nurkholis.
Lantaran hal tersebut, berdasarkan pertimbangan Nurkholis, penyesuaian regulasi reserve requirement yang bakal berjalan mulai September 2026 berpeluang menghasilkan pengaruh yang beraneka ragam untuk tiap-tiap perbankan.
Melalui keadaan likuiditas beserta ciri permodalan yang berlainan, sambung dia, perbankan mesti dicermati secara lebih cermat demi memantau perbankan mana yang memegang celah ekspansi lebih baik di tengah pergeseran keadaan sektor bisnis.