Biografi Singkat Margono Djojohadikusumo Dan Perannya Bagi Indonesia
BANYUMAS - Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden RI Prabowo Subianto dari garis ayah, masuk dalam daftar figur Jawa Tengah yang diajukan meraih predikat Pahlawan Nasional pada 2026.
Nama Margono diusulkan berdampingan dengan KH Sholeh Darat asal Kota Semarang pada rangkaian pengajuan gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Tengah Imam Maskur menyampaikan, kedua figur tersebut telah melewati penelaahan di tingkat daerah sebelum diserahkan ke pemerintah pusat.
"Ya tahun ini ada dua nama yang diusulkan sebagai pahlawan nasional yaitu Kiai Sholeh Darat dan Margono Djojohadikusumo, mbahnya Pak Prabowo," kata Imam, dilansir dari Sumbernya, Minggu (16/8/2026).
Akan tetapi, pencalonan Margono sebagai pahlawan nasional masih menjumpai hambatan lantaran pihak keluarga dikabarkan belum memberikan persetujuan.
"Keluarga presiden belum mau diajukan," jelas Imam.
Lalu, bagaimana rekam jejak Margono Djojohadikusumo serta perannya di dalam sejarah Indonesia?
Profil Margono Djojohadikusumo
Merujuk pada situs Dinarpus Banyumas, Margono Djojohadikusumo dilahirkan di Purwokerto, Banyumas pada 16 Mei 1894.
Beliau mengembuskan napas terakhir di Jakarta pada 25 Juli 1978 di usia 84 tahun.
Margono adalah cucu buyut Raden Tumenggung Banyakwide atau Panglima Banyakwide, seorang pengikut Pangeran Diponegoro.
Ayah dari Margono menjabat sebagai seorang asisten wedana Banyumas.
Margono menuntaskan pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) Banyumas, sekolah tingkat dasar di masa kekuasaan kolonial Belanda, sejak 1900 hingga 1907.
Di dalam keluarganya, Margono adalah ayah bagi Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo, yang dikenal luas selaku Begawan Ekonomi Indonesia.
Margono pun merupakan ayah dari Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikoesoemo dan Taruna Soejono Djojohadikoesoemo, dua pemuda yang gugur dalam Peristiwa Pertempuran Lengkong.
Identitas kedua putranya tersebut kelak disematkan pada nama cucunya, Prabowo Subianto dan Hashim Sujono.
Pernah Jadi Ketua DPAS
Margono memperoleh amanat penting pada struktur pemerintahan Indonesia usai Soekarno dan Mohammad Hatta dilantik selaku Presiden dan Wakil Presiden.
Satu hari sesudah pelantikan, dibentuklah Kabinet Presidentil beserta Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS).
Margono lantas dipercaya menduduki jabatan Ketua DPAS pertama.
Melalui posisi itu, beliau menyarankan pembentukan lembaga bank sentral ataupun bank sirkulasi seperti yang tertera di dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Pemikiran Margono selanjutnya memperoleh mandat langsung dari Soekarno dan Mohammad Hatta.
Pada 16 September 1945, beliau diamanatkan mempersiapkan pendirian Bank Sentral atau Bank Sirkulasi Negara Indonesia.
Beberapa hari setelahnya, tepat pada 19 September 1945, Dewan Menteri Republik Indonesia menetapkan pembentukan bank milik negara guna menjalankan fungsi selaku bank sirkulasi.
Menginisiasi Berdirinya BNI
Langkah mewujudkan bank nasional berlanjut hingga pihak pemerintah menerbitkan Perpu Nomor 2 Tahun 1946 pada 15 Juli 1946.
Aturan hukum itu menjadi fondasi pendirian Bank Negara Indonesia sekaligus menetapkan R.M. Margono Djojohadikusumo selaku Direktur Utama BNI.
Margono lantas memimpin lembaga keuangan tersebut sebagai direktur utama.
Dalam perjalanannya, status hukum Bank BNI ditingkatkan menjadi persero pada kurun waktu 1970.
Jejak Margono juga tercatat dalam riwayat ketatanegaraan Indonesia mengenai penerapan hak angket oleh DPR.
Memasuki era 1950-an, DPR guna pertama kalinya menggunakan instrumen hak angket.
Gagasan itu bermula atas resolusi yang disodorkan R.M. Margono Djojohadikusumo.
Beliau menyarankan supaya DPR melakukan penyelidikan atas upaya memperoleh devisa serta mekanisme pemerintah dalam memanfaatkan devisa.
DPR setelahnya membentuk tim panitia angket yang dihuni 13 orang anggota dengan Margono selaku ketua.
Tim tersebut bertugas memeriksa kalkulasi untung-rugi mempertahankannya devisen-regime merujuk Undang-Undang Pengawasan Devisen 1940 berikut rentetan perubahannya.
Wafat di Jakarta, Dimakamkan di Banyumas
Margono Djojohadikusumo tutup usia di Jakarta pada 25 Juli 1978.
Jasadnya lantas dimakamkan di area pemakaman keluarga yang berlokasi di Dawuhan, Banyumas, Jawa Tengah.
Identitasnya masih diabadikan pada sejumlah area serta fasilitas hingga saat ini.
Gedung R.M. Margono Djojohadikusumo di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) memakai namanya, begitu pula sebuah ruas jalan raya di Jakarta.
Perjalanan hidup Margono turut menjadi salah satu bahan inspirasi dalam garapan film Merah Putih.
Namun, penyematan nama Margono pada Rumah Sakit Margono di Purwokerto, Banyumas, tidak merujuk kepada R.M. Margono Djojohadikusumo.
Nama fasilitas kesehatan tersebut diambil dari Margono Sukarjo, seorang dokter spesialis bedah yang dikenal selaku dokter spesialis bedah perdana di Indonesia.