Won Korsel Pimpin Penguatan Mata Uang Asia, Rupiah Tertekan Rabu Pagi
JAKARTA - Nilai tukar beberapa mata uang di Asia bergerak beragam terhadap dolar AS pada sesi perdagangan Rabu (19/8/2026).
Won Korea Selatan menjadi mata uang yang mengalami apresiasi terbesar, sedangkan rupiah masih bertahan di area penurunan.
Mengutip data dari Sumbernya pada pukul 02.02 GMT, won Korea Selatan melonjak 0,44% ke posisi 1.406,30 per dolar AS.
Apresiasi tersebut menjadikan won sebagai mata uang Asia bermutu kinerja terbaik dalam perdagangan tersebut.
Won juga mencatatkan performa positif sepanjang tahun berjalan.
Hingga 19 Agustus 2026, won sudah menguat 2,36% atas dolar AS bila dibandingkan dengan posisi pada akhir 2025.
Di samping won, yen Jepang menanjak 0,12% menuju 159,43 per dolar AS, dolar Taiwan terangkat 0,10% menjadi 31,912, dolar Singapura terangkat tipis 0,01% ke level 1,278, lalu yuan China naik 0,03% menjadi 6,743 per dolar AS.
Sebaliknya, beberapa mata uang Asia tertekan.
Baht Thailand merosot 0,14% menjadi 33,128 per dolar AS, ringgit Malaysia melorot 0,14% ke 4,062, sementara peso Filipina terkoreksi 0,13% ke angka 61,834.
Rupiah Masih Tertekan
Rupiah juga terdeteksi melemah tipis 0,03% menuju level Rp17.855 per dolar AS dari angka sebelumnya Rp17.850 per dolar AS.
Pergerakan nilai tukar rupiah ini meneruskan tekanan yang telah melanda sepanjang tahun berjalan.
Mengacu pada data dari Sumbernya, rupiah telah terdepresiasi sekitar 6,64% terhadap dolar AS sejak penghujung 2025.
Pelemahan nilai rupiah menjadi salah satu yang paling dalam di tengah mata uang kawasan Asia sepanjang masa tersebut.
Hanya baht Thailand yang terkikis lebih dalam, yakni 5,06%, sedangkan rupee India merosot 6,07% dan peso Filipina melorot 4,91%.
Di wilayah Asia, ringgit Malaysia relatif konstan secara tahunan dengan pergeseran sekitar 0,14%, sementara dolar Singapura tumbuh 0,58%.
Tekanan Dolar dan Geopolitik Jadi Perhatian
Dinamika mata uang Asia terjadi di tengah sorotan para pemodal terhadap arah kebijakan Federal Reserve serta lonjakan imbal hasil obligasi dunia.
Dahulu, peningkatan yield obligasi jangka panjang Amerika Serikat, Jepang dan Jerman ikut menyumbang tekanan bagi mata uang negara berkembang.
Situasi ini dapat mendongkrak daya pikat instrumen berbasis dolar sekaligus memperbesar risiko aliran modal keluar dari pasar berkembang.
Di pihak lain, eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah turut menjadi fokus karena berpeluang memicu kenaikan harga komoditas minyak.
Negara-negara seumpama Indonesia dan India yang memegang kebutuhan impor energi tergolong tinggi cenderung lebih peka atas lonjakan harga minyak.
Lantaran itu, laju rupiah dan mata uang Asia mendatang masih akan disetir oleh kombinasi arah keputusan The Fed, pergerakan yield Treasury AS, harga komoditas energi serta dinamika geopolitik dunia.