Kenaikan Yield Obligasi Amerika Serikat Menjadi Penekan Utama Emas Dunia
JAKARTA - Banderol emas merosot usai yield Treasury Amerika Serikat (AS) merangkak naik menuju posisi tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Melonjaknya tarif energi akibat kian memanasnya konfrontasi AS-Iran turut mempertegas ketakutan inflasi serta menghimpit emas lantaran tak memiliki imbal hasil bunga.
Berdasarkan data Refinitiv, angka perdagangan emas pada Selasa (18/8/2026) usai di posisi US$ 4.333,33 per troy ons.
Nilainya jatuh sebesar 1,85% atau mendekati 2% dalam kurun satu malam.
Pelesuan tersebut mengakhiri laju positif yang sebelumnya konsisten meningkat selama dua hari beruntun.
Banderol emas tetap mengalami penyusutan pada hari ini.
Pada Rabu (19/8/2026), banderol emas menyusut 0,09% menjadi US$ 4.329,05 per troy ons.
Peter Grant, wakil presiden sekaligus senior metals strategist Zaner Metals, mengungkapkan melesatnya imbal hasil obligasi menjadi rintangan nyata buat emas.
Meningkatnya harga minyak dunia pun menjadi salah satu pemicu yang menahan pergerakan banderol emas.
Grant mengungkapkan walaupun banderol emas sekarang sedang mengalami penyesuaian, pihaknya tetap optimistis mengenai proyeksi emas.
"Meski harga emas saat ini mengalami koreksi, kami tetap bullish terhadap emas dan melihat masih ada potensi kenaikan. Namun, pasar mungkin perlu melewati periode konsolidasi terlebih dahulu sebelum minat beli kembali muncul."
Di samping itu, penilai pasar dari Bank of America menganggap pergerakan pembelian penanam modal saat ini lebih sejalan dengan banderol emas di kisaran US$ 4.000 per troy ounce, bukan US$ 5.000.
Untuk menggapai posisi US$ 5.000, kebutuhan investasi emas wajib meningkat sebesar 21% secara tahunan (YoY).
"Aktivitas pembelian investor saat ini lebih konsisten dengan harga emas yang berada di kisaran US$4.000 per troy ounce dibandingkan US$5.000,"
Sebab itu, gairah transaksi penanam modal mesti terpacu lebih cepat agar banderol emas mempunyai kans menembus US$ 5.000 per troy ounce.
Biaya utang jangka panjang di AS, Jepang, serta Jerman menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade.
Kondisi tersebut menghimpit emas disebabkan logam mulia tidak menghasilkan imbal hasil bunga.
Pada aspek lain, banderol minyak mentah tetap menanjak untuk sesi ketiga secara beruntun.
Harapan lahirnya titik temu perdamaian antara AS dan Iran pun kian menipis.
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan Teheran besar kemungkinan tak bakal menyetujui kriteria yang diperlukan untuk mengakhiri pertikaian.
Iran pun menegaskan bakal mengambil posisi militer yang sepenuhnya berorientasi menyerang dan menggarisbawahi Selat Hormuz tetap diblokade hingga Washington menuntaskan deretan kriteria dalam kesepakatan sementara.
Tarif energi yang kian mahal memperkuat landasan bagi bank sentral guna menjaga atau mendongkrak suku bunga demi menahan laju inflasi.
Fenomena ini berlangsung walaupun laporan ekonomi AS paling baru memperlihatkan penurunan lapangan kerja yang tak terprediksi, inflasi di bawah perkiraan, serta transaksi ritel Juli yang lesu.
Para penanam modal saat ini menantikan dokumen hasil rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) paling baru yang bakal diumumkan pada Rabu demi memperoleh petunjuk mengenai pergerakan suku bunga AS.
Banderol perak ikut terperosok.
Berdasarkan data Refinitiv, banderol perak pada sesi perdagangan Selasa (18/8/2026) usai di level US$ 63,3 per troy ons.
Angkanya jatuh 3,8%.
Banderol perak masih bergerak melemah pada hari ini.
Pada Rabu (19/8/2026), banderol perak menyusut 0,16% menuju level US$ 63,19 per troy ons.