Mekanisme AHWA Dinilai Cegah Dualisme Kepemimpinan NU, Gus Ipul: Hak Muktamirin Tetap Aman
WARTAFINANSIAL.COM — Gus Ipul menegaskan, AHWA bukan hal asing dalam tradisi NU. Justru, mekanisme ini dinilai sebagai jalan keluar untuk menghindari konflik berkepanjangan di internal organisasi.
"Saya kira enggak juga ya, ini bagian dari tradisi para ulama, para kiai. Jadi ini untuk menghindari dualisme kepemimpinan," kata Gus Ipul di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8).
Mengapa Skema Ini Dibutuhkan?
Selama ini, Rais Aam dan Ketua Umum PBNU sama-sama dipilih melalui forum Muktamar. Alhasil, ada dua posisi yang mengantongi mandat dari forum tertinggi NU tersebut.
"Selama ini ada Rais Aam yang dapat mandat atau produk dari muktamar, dan ketua umum yang juga produk dari muktamar, sehingga ada dua mandataris," ujarnya.
Apabila mekanisme AHWA resmi disepakati, struktur kepemimpinan NU akan lebih tegas. Rais Aam nantinya menjadi satu-satunya pemegang posisi kepemimpinan tertinggi di organisasi.
"Nah, ke depan kalau ini disepakati, maka nanti kepemimpinan tertinggi benar-benar berada di Rais Aam," tegas Gus Ipul.
Voting Penentu Nasib Mekanisme
Keputusan soal mekanisme pemilihan ini tidak diambil secara sepihak. Presidium Sidang Pleno Muktamar ke-35 NU, Muhammad Nuh, menyebut pembahasan sebelumnya alot dan tak mencapai mufakat.
Alhasil, jalan musyawarah mufakat gagal ditempuh. Para muktamirin akhirnya diminta menentukan pilihan lewat mekanisme voting yang berlangsung di Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026).
"Sebentar lagi kita akan melakukan voting itu untuk menentukan pilihan dalam rangka memilih Ketua Umum," ujar Nuh.
Dua Opsi yang Diperebutkan
Setidaknya ada dua skema yang menjadi opsi dalam voting tersebut. Pertama, mempertahankan mekanisme lama seperti Muktamar sebelumnya. Dalam skema ini, calon Ketua Umum diusulkan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).
Opsi kedua adalah mekanisme baru yang menggabungkan penjaringan calon dengan AHWA. Setiap cabang mengusulkan lebih dari satu nama, kemudian diperingkat berdasarkan perolehan suara sebelum akhirnya diputuskan melalui AHWA.
Hasil voting ini akan menjadi penentu arah kepemimpinan NU untuk periode berikutnya. Seluruh mata kini tertuju pada Jombang, menunggu keputusan final para kiai dan muktamirin.