CIMB Niaga: Saatnya Kunci Imbal Hasil Obligasi Sebelum BI Rate Berbalik
WARTAFINANSIAL.COM — Artinya, bagi investor yang belum memiliki posisi di pasar obligasi, periode sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai masuk. "Kalau imbal hasilnya tinggi, itu kesempatan kita yang baru mau investasi di obligasi itu sangat menarik," ujar Lanjar dalam acara Kelas Jurnalisme Inspiratif di Ritz Carlton Pacific Place, Rabu (26/8/2026).
Sebagai gambaran konkret, ia menyebutkan seri obligasi negara FR100 saat ini menawarkan yield to maturity (YTM) sekitar 7-7,1 persen. Sementara untuk obligasi bertenor lima tahun, imbal hasilnya berkisar 6,7-6,8 persen.
Mengapa Justru Harus Beli Saat Harga Sedang Tertekan?
Logika investasi obligasi memang berkebalikan dengan kebanyakan instrumen lain. Ketika yield naik, harga obligasi justru turun. Sebaliknya, ketika yield turun, harga obligasi naik.
"Kalau imbal hasil naik, harga obligasi turun. Di saat imbal hasil naik tinggi-tingginya, harga obligasi turun, itulah timing yang tepat untuk kita lock imbal hasil di obligasi," jelas Lanjar.
Dengan membeli obligasi pada saat yield sedang tinggi, investor berpotensi memperoleh keuntungan ganda. Selain mengunci kupon yang besar, ketika siklus suku bunga nantinya berbalik arah dan BI mulai memangkas bunga acuan, harga obligasi yang dipegang akan ikut naik.
Jangan Lupakan Risiko Rupiah, Ini Saran CIMB Niaga
Meski peluang di pasar obligasi terbuka lebar, Lanjar mengingatkan adanya risiko nilai tukar yang masih membayangi. Rupiah diperkirakan masih akan bergejolak akibat faktor eksternal, seperti potensi capital outflow dan ketidakpastian geopolitik global.
Konsensus Bloomberg memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di sekitar Rp17.800/US$. CIMB Niaga memiliki proyeksi yang lebih konservatif, yakni Rp18.300/US$.
Untuk memitigasi risiko ini, investor disarankan tidak menaruh seluruh aset dalam denominasi rupiah. "Mulailah investasi ke nilai tukar yang tidak berdenominasi rupiah, bisa reksa dana global syariah, atau reksa dana pendapatan tetap yang US dolar," kata Lanjar.
Dengan proyeksi BI Rate yang mulai mendekati puncak, periode suku bunga tinggi saat ini justru menjadi peluang emas bagi investor untuk mengamankan imbal hasil sebelum arah kebijakan moneter berubah. Bagi investor yang sudah memegang obligasi sejak lama, periode ini juga bisa menjadi momen untuk menambah posisi di harga yang lebih murah.