Rupiah dan Kredit Jadi PR Besar, Calon Gubernur BI Sebut Ekonomi Belum Optimal
WARTAFINANSIAL.COM — Dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Gubernur BI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Destry memaparkan bahwa masih ada ruang besar untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Salah satu indikator yang disorot adalah banyaknya dana bank yang belum tersalurkan ke masyarakat.
Dana Menganggur di Bank Capai Rp 2.548 Triliun
Destry mengungkapkan, saat ini terdapat undisbursed loan atau dana yang sudah disetujui namun belum dicairkan sebesar Rp 2.548 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 21 persen dari total plafon kredit yang disediakan perbankan.
“Siklus ekonomi kita saat ini masih berada di bawah tingkat optimalnya. Pertumbuhan kredit masih dapat terus didorong, mengoptimalkan undisbursed loan yang saat ini mencapai Rp 2.548 triliun,” ujarnya.
Artinya, likuiditas perbankan sebenarnya melimpah, namun belum seluruhnya berputar untuk membiayai sektor riil. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah utama bagi bank sentral ke depan.
UMKM Jadi Kunci Percepatan Ekonomi
Selain mendorong penyaluran kredit korporasi, Destry menilai segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran strategis. Menurutnya, kredit UMKM tidak hanya penting untuk menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menegaskan bahwa menjaga stabilitas ekonomi saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan fundamental ini. Dibutuhkan langkah lebih agresif untuk memastikan uang yang ada di perbankan benar-benar mengalir ke sektor produktif.
“Bank Indonesia juga perlu terus memperkuat bauran kebijakan agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tegas Destry.
Mandat Baru Menanti Gubernur BI Terpilih
Destry yang kini menjabat Deputi Gubernur Senior BI merupakan calon tunggal yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto. Surat Presiden (Surpres) telah diserahkan ke DPR untuk memulai proses seleksi.
Ia menambahkan, tantangan ke depan menuntut kapasitas kelembagaan BI yang semakin kuat dan adaptif. Hal ini seiring dengan mandat dan tanggung jawab yang akan semakin besar dalam mengelola perekonomian nasional.
Jika terpilih, Destry dipastikan langsung menghadapi pekerjaan berat: menyeimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah dengan kebutuhan mendorong pertumbuhan kredit yang masih jauh dari potensi maksimalnya.