Mencintai Mata Uang Rupiah pada Era Transaksi Digital Tanpa Uang Tunai

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 18 Agustus 2026
Mencintai Mata Uang Rupiah pada Era Transaksi Digital Tanpa Uang Tunai
Mencintai Mata Uang Rupiah pada Era Transaksi Digital (FOTO: NET)

JAKARTA - Kami sedang memasuki era ketika masyarakat semakin jarang memegang uang secara fisik. Membeli minuman kopi cukup dengan melakukan pemindaian QRIS. Membayar tarif jalan tol tidak lagi menyerahkan lembaran uang tunai. Transaksi belanja secara daring, membayar berbagai tagihan, membeli tiket transportasi, bahkan memberikan donasi dapat diselesaikan hanya dengan beberapa ketukan pada layar ponsel cerdas.

Di tengah tren tersebut, Bank Indonesia kembali menggelar agenda Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 pada tanggal 14 hingga 16 Agustus 2026.

Saat memasuki pelaksanaan yang kelima sejak tahun 2022, kegiatan FERBI mengusung pesan berupa Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah. Uang nasional diletakkan tidak sekadar sebagai instrumen transaksi pembayaran, melainkan juga pendorong roda perekonomian, tingkat kesejahteraan, sekaligus lambang persatuan serta kedaulatan negara.

Namun timbul sebuah kontradiksi yang menarik: saat uang tunai secara perlahan mulai jarang digunakan oleh masyarakat, mengapa kami justru harus semakin mengasihi Rupiah?

Kekeliruan yang kerap terjadi yakni menyamakan Rupiah semata-mata dengan uang berbentuk kertas maupun logam. Padahal, makna Rupiah jauh lebih luas dibanding benda fisik yang kami simpan di dalam dompet. Saat seseorang membayar sejumlah Rp 25.000 memakai sarana QRIS, hal yang berpindah memang bukanlah lembaran mata uang Rp 20.000 dan Rp 5.000. Namun besaran nilai yang ditukarkan tetaplah Rupiah. Sama halnya ketika jutaan orang mengirimkan uang lewat aplikasi perbankan seluler, dompet elektronik, atau beragam saluran transaksi digital lainnya. Penggunaan teknologi digital mengubah sarana transaksi, namun tidak menghapus keberadaan dari mata uang itu sendiri.

Dinamika perubahan tersebut terjadi amat cepat. Pihak Bank Indonesia mencatat bahwa transaksi sektor ekonomi serta keuangan digital di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring makin luasnya pemanfaatan aplikasi perbankan digital dan sarana QRIS.

Oleh sebab itu, publik mungkin makin bertambah jarang melihat fisik Rupiah secara langsung, namun justru semakin intens menggunakannya secara elektronik. Pada titik inilah pesan utama FERBI menjadi amat relevan. Mengasihi Rupiah tidak boleh berhenti pada tindakan merawat uang kertas supaya tidak terlipat, dicoret-coret, atau rusak. Di masa serba digital, rasa cinta pada Rupiah mesti bertransformasi menjadi kesadaran dalam menjaga rasa percaya publik terhadap mata uang nasional beserta ekosistem transaksinya. Pasalnya, keberadaan mata uang pada dasarnya terus bertahan karena faktor kepercayaan.

Program Gerakan Cinta, Bangga, Paham Rupiah mempunyai alur yang unik. Rasa cinta membentuk kedekatan secara emosional. Rasa bangga membina identitas diri. Meski demikian, kedua hal tersebut belum cukup tanpa adanya pemahaman. Justru aspek kata “paham” semestinya menjadi semakin krusial. Publik perlu mengerti alasan mengapa nilai tukar Rupiah dapat menguat ataupun melemah. Mengapa tingkat inflasi dapat menurunkan daya beli masyarakat. Mengapa penetapan suku bunga Bank Indonesia berdampak pada fasilitas kredit serta simpanan tabungan. Mengapa penggunaan mata uang asing di dalam wilayah dalam negeri membawa dampak terhadap kedaulatan sektor moneter.

Dengan begitu, tingkat literasi Rupiah semestinya meningkat menjadi tingkat literasi ekonomi. Seseorang yang mengerti Rupiah tidak cuma sekadar mengenali tanda keaslian uang kertas. Ia juga mengerti nilai dari uang, mengelola penerimaan pendapatan, membatasi tingkat konsumsi, menghindari beban utang berlebih, menabung, berinvestasi, serta menggunakan fasilitas pembayaran secara aman.

Di situlah tantangan utama bagi penyelenggaraan FERBI setelah memasuki pelaksanaan kelima. Acara festival tidak boleh berhenti sekadar menjadi agenda seremonial semata. Ukuran kesuksesan bukan hanya dinilai dari berapa banyak warga yang hadir, berapa stan yang dibuka, berapa seri kegiatan dijalankan, atau seberapa populer perbincangan di jejaring sosial. Fokus pertanyaan mesti digeser: hal apa yang berubah setelah publik selesai mengikuti gelaran FERBI?

Dalam lingkup manajemen kebijakan publik dikenal perbedaan mendasar antara hasil langsung (output) dan dampak jangka panjang (outcome). Gelaran festival, seminar, pameran, perlombaan, dan kampanye merupakan output. Sedangkan peningkatan wawasan, perubahan pola perilaku, serta makin kuatnya rasa percaya publik kepada Rupiah merupakan outcome. Oleh karena itu, FERBI memerlukan tolok ukur kesuksesan yang lebih mendalam. Apakah pemahaman warga tentang Rupiah mengalami peningkatan? Apakah warga makin bijaksana dalam memakai uang? Apakah mereka makin cermat mendeteksi risiko penipuan pada transaksi digital? Apakah kelompok generasi muda paham keterkaitan Rupiah dengan laju inflasi, tingkat daya beli, suku bunga, serta kondisi ekonomi nasional? Bahkan, lebih jauh lagi, apakah warga makin memercayai mata uang Rupiah?

Poin pertanyaan pamungkas tersebut menjadi sangat vital. Catatan sejarah di banyak negara membuktikan, krisis yang menimpa mata uang pada hakikatnya juga merupakan bentuk krisis kepercayaan. Ketika masyarakat kehilangan rasa percaya pada kemampuan mata uang dalam menjaga nilainya, mereka akan memburu sarana alternatif: valuta asing, logam mulia emas, instrumen finansial lain, hingga aset kripto. Oleh sebab itu, merawat Rupiah tidak cukup hanya dengan kampanye. Pihak otoritas juga wajib memelihara faktor fundamental yang membuat warga tetap percaya padanya: laju inflasi yang terkontrol, stabilitas nilai tukar yang tepercaya, sistem pembayaran yang aman, serta arah kebijakan moneter yang konsisten. Dengan perkataan lain, publik diimbau mencintai Rupiah, sedangkan pihak negara berkewajiban menjadikan Rupiah pantas untuk dicintai.

Tantangan berikutnya bahkan bertambah berat. Masa depan mata uang tidak lagi hanya berwujud lembaran kertas. Transaksi digital, sistem QRIS, perbankan seluler, dompet elektronik, hingga perancangan Rupiah Digital menandakan bahwa persaingan kedaulatan mata uang bakal semakin marak terjadi di ranah digital. Oleh sebab itu, kedaulatan Rupiah pada masa mendatang turut bergantung pada pihak mana yang menguasai sarana infrastruktur pembayaran, data transaksi, alur teknologi, standar pengamanan, serta ekosistem digitalnya. Indonesia tentu tidak boleh menampik arus globalisasi pada sistem keuangan.

Kendati demikian, keterbukaan sektor ekonomi mesti berjalan beriringan dengan kapabilitas menjaga kedaulatan sistem pembayaran dalam negeri. Di titik inilah pelaksanaan FERBI semestinya bertransformasi. Acara ini bukan sekadar perayaan seputar uang, melainkan sebuah gerakan literasi ekonomi dan kedaulatan moneter yang menjangkau lini sekolah, perguruan tinggi, pelaku UMKM, elemen komunitas, hingga arena digital sepanjang tahun.

Bayangkan apabila kelompok generasi muda tidak sekadar diajari mengenali gambar wajah pahlawan pada uang kertas, melainkan turut memahami alasan terjadinya inflasi, bagaimana proses pembentukan nilai tukar, mengapa transaksi digital harus terjamin keamanannya, serta bagaimana pilihan finansial pribadi memberi sumbangsih pada ketahanan ekonomi nasional. Itulah makna yang baru dari upaya mengasihi Rupiah.

Pada akhirnya, mungkin di suatu hari nanti dompet kami tidak lagi diisi oleh banyak lembaran uang fisik. Bahkan mungkin kelompok generasi mendatang makin jarang memegang bentuk uang tunai. Namun satu hal tidak boleh ikut sirna: rasa percaya terhadap Rupiah. Sebab Rupiah boleh berganti wujud dari lembaran kertas menjadi deretan angka pada layar ponsel cerdas. Teknologi sarana pembayaran boleh bertukar. Cara kami bertransaksi boleh berubah total. Akan tetapi selama Indonesia berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat, Rupiah mesti tetap menjadi tuan rumah di tanah air sendiri. Oleh sebab itu, pada era tanpa uang fisik, mengasihi Rupiah justru menjadi hal yang makin krusial. Bukan lantaran lembaran kertasnya, melainkan karena nilai, tingkat kepercayaan, serta kedaulatan bangsa yang berada di baliknya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua