Peluang Penguatan Harga Emas Dunia Diproyeksi Menembus US$4.900 per Ons
JAKARTA - Banderol emas pasar internasional berpeluang melanjutkan tren positif hingga pemungkas tahun setelah bertahan kokoh melebihi US$ 4.400 per ons troi.
Merujuk pada laporan Bloomberg pada Rabu (12/8) jam 17.06 WIB, banderol emas berada di angka US$ 4.415 per ons troi.
Pakar Komoditas sekaligus Pemrakarsa Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai pergerakan banderol emas masih berada di area konsolidasi seusai sempat menyusut dari level tertingginya.
Ia menganggap arah selanjutnya akan dipengaruhi oleh kesanggupan emas dalam menembus deretan level resistensi.
“Target penguatan ke area 4600-4900,” kata Wahyu.
Wahyu mematok US$ 4.600 sebagai resistensi terdekat, sementara US$ 4.900 menjadi hambatan resistensi yang lebih berat.
Apabila ambang batas tersebut dapat dilalui, banderol emas berpeluang memacu peningkatan menuju rentang US$ 5.000–US $6.000 per ons troi.
Menurut keterangannya, peluang kenaikan itu disokong oleh tanda-tanda pembalikan arah.
Banderol emas dinilai sudah menyentuh landasan terbawah usai sempat terkoreksi cukup dalam.
“XAUUSD sepertinya sudah bottom out di 3943. Bullish Reversal potensial terjadi,” ujar Wahyu.
Ditinjau dari faktor fundamental, perkiraan atas kebijakan suku bunga The Fed menjadi penggerak dominan arah banderol emas.
Suku bunga beserta imbal hasil US Treasury yang tinggi memberikan tekanan lantaran meningkatkan oportunitas biaya dalam menggenggam emas yang tidak membagikan imbal hasil secara langsung.
Sebaliknya, melesunya kurs dolar AS dan terkendalinya inflasi mampu memberikan angin segar bagi emas.
“Saat ini, ekspektasi suku bunga The Fed merupakan pengemudi utama yang menentukan arah harian harga emas,” ujar Wahyu.
Wahyu berpandangan bahwa melemahnya indikator ekonomi AS, terutama di sektor pasar kerja, dapat membuka ruang bagi banderol emas untuk terus menanjak.
Kondisi ini berpotensi meredam paksaan bagi The Fed guna melanggengkan kebijakan moneter yang ketat.
Namun demikian, kenaikan harga komoditas minyak akibat meningkatnya tensi geopolitik tetap menjadi ancaman lantaran sanggup mengerek kembali inflasi dan mempertegas posisi hawkish The Fed.