Ketua Apindo Tegaskan Dunia Usaha Tetap Lakukan Ekspansi Saat Ini

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 10 Agustus 2026
Ketua Apindo Tegaskan Dunia Usaha Tetap Lakukan Ekspansi Saat Ini
Ketua Apindo Tegaskan Dunia Usaha (FOTO: NET)

JAKARTA - Pemimpin Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyampaikan masih terdapat dunia usaha yang bergerak positif di tengah hambatan dunia yang cukup besar. Walau demikian, ritme pergerakannya wajib dipelihara kedepannya.

Shinta membenarkan laju ekonomi yang melambat pada kuartal II-2026 pada level 5,29 persen turut terimbas oleh terganggunya sektor usaha atas hambatan global. Walau begitu, sejumlah dunia usaha tetap memperoleh prospek berekspansi.

"Ini tidak berarti bahwa di sektor riil tidak ada industri yang ekspansi. Kami meyakini tetap ada, namun tidak banyak dan tidak menjadi tren industri yang mainstream, karena disrupsi-disrupsi yang terjadi di sisi demand pasar maupun di sisi komponen supply dan biaya produksi," jelas Shinta pada pernyataan yang diterima dari Sumbernya, Senin (10/8/2026).

Ia menjelaskan, situasi itu dapat terlihat melalui PMI Manufaktur yang dirilis S&P per Juli 2026. Angkanya mencatatkan posisi 50,2 poin atau berada dalam ranah ekspansi.

"Ini artinya, kalaupun ada pertumbuhan kondisi ekonomi di Q2, pertumbuhan tersebut sifatnya baru dan relatif fragile sehingga perlu dijaga momentumnya," ujar dia.

Tujuannya demi laju ekonomi ke depannya dapat makin optimal serta menggenjot arah pergerakan dunia usaha ke depannya. Terlebih bagi lini yang sebelumnya tertekan karena imbas dunia.

Berharap Meningkat

Dahulu, Pemimpin Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengamati hasil positif dari laju ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026. Akan tetapi, ada beberapa tantangan yang dirasakan para pelaku usaha dalam periode tersebut.

Diketahui, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II-2026 secara tahunan (year on year). Angka itu mengindikasikan penurunan dari kenaikan kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen. Shinta berharap pergerakan lonjakan dapat terjadi sampai akhir 2026.

"Kami tentu mengapresiasi data capaian pertumbuhan Q2 2026 yang mencapai 5,29 persen yoy. Ini adalah capaian yang sangat positif dan perlu kami pastikan agar dapat bertahan, bahkan naik ke depannya hingga akhir tahun," ucap Shinta dalam rilis yang didapat dari Sumbernya, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Tantangan Dunia Usaha

Ia membenarkan adanya penurunan laju ekonomi nasional. Salah satunya dicermati dari tekanan pada dunia usaha di tanah air. Kuartal II-2026 dinilai merupakan waktu yang terbilang berat untuk pengusaha.

"Banyak industri yang mengalami cost-push inflation akibat imbas konflik di Selat Hormuz dan efek pelemahan nilai tukar terhadap peningkatan beban biaya produksi dan bahan baku impor," kata dia.

Ia memaparkan, perkelahian Selat Hormuz terutamanya berakibat pada kenaikan tarif energi, seperti bahan bakar minyak (BBM). Pada momen yang sama, pengeluaran logistik pun ikut terpengaruh.

Tantangan Permintaan Barang Ekspor Indonesia

Shinta pun menilai adanya hambatan dari jalur permintaan ekspor pada produk Indonesia. Ketegangan geopolitik sekali lagi mempunyai pengaruh terhadap daya beli beberapa negara.

"Di Q2 sektor riil juga banyak yang mengalami tekanan permintaan ekspor dari berbagai negara rekan dagang Indonesia karena konflik geopolitik turut menyebabkan penurunan daya beli di sejumlah negara yang mengalami shock harga migas yang lebih dalam dibandingkan Indonesia," papar dia.

Permintaan ekspor pada kuartal II-2026 pun disebut terganggu akibat investigasi niaga Amerika Serikat (AS) kepada Indonesia. "Belum lagi, pasar domestik juga sempat mengalami perlambatan permintaan karena kenaikan harga BBM," katanya.

"Aktifitas ekonomi di sektor riil setidaknya yang dialami pelaku usaha sepanjang Q2 2026 cukup berat sehingga kurang mendukung adanya ekspansi kegiatan usaha," terus Shinta.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua