Perkiraan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Kamis 23 Juli 2026

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 23 Juli 2026
Perkiraan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Kamis 23 Juli 2026
Perkiraan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS (FOTO: NET)

JAKARTA — Kurs rupiah atas dolar AS pada perdagangan Kamis 23 Juli 2026 diprediksi berjalan fluktuatif tetapi berakhir merosot pada kisaran Rp17.920 hingga Rp18.970 per dolar AS.

Posisi mata uang rupiah berakhir tergerus 65 poin menuju Rp17.920 per dolar AS pada sesi transaksi Rabu (22/7/2026).

Dinamika rupiah saat ini merupakan wujud tanggapan pasar yang sebelumnya membayangkan adanya kenaikan BI Rate.

Bank Indonesia lewat Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026 mengambil keputusan untuk mempertahankan BI-Rate pada posisi 5,75%.

Bersamaan atas langkah ini, BI menetapkan tingkat bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%, serta tingkat bunga Lending Facility sebesar 25 bps menuju 6,50%.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, ketetapan BI yang menahan tingkat bunga ini disertai lewat kebijakan penyerahan insentif demi memicu aliran modal asing menuju pasar uang Indonesia.

Hal tersebut dinilai krusial demi memelihara stabilitas kurs rupiah yang terimpit semenjak awal tahun.

"BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas," kata Ibrahim.

Ketika rupiah sedang tertekan, kondisi dunia ikut menyumbang sentimen negatif yang lain.

Ibrahim menerangkan bahwa saat ini para pelaku pasar memperhitungkan makin tingginya bentrokan senjata antara AS dan Iran, yang mana armada AS menyatakan mereka mulai menggempur sasaran militer Iran untuk malam ke-11 secara berturut-turut pada Selasa lalu.

Ketegangan yang kian memanas ini mengancam ketersediaan minyak dunia lewat jalur Selat Hormuz.

Dampaknya lalu meluas pada harga minyak, impor energi Indonesia membengkak, serta rupiah merosot.

Di samping itu, situasi inflasi energi dunia juga berhubungan erat atas tindakan Bank Sentral AS.

Ibrahim menyampaikan, dugaan bahwa The Fed mungkin bakal menaikkan kecepatan kenaikan tingkat bunga pada 2026 melonjak tajam, dipicu oleh harga minyak yang melambung.

"Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas sebesar 78%, bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuannya minggu depan. Sementara itu, kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan September berada di sekitar 68%," pungkasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua