IHSG Berpotensi Mengalami Tekanan dan Bergerak Sideways di Level 5.300

AA
Aaina Salsa Bila

Editor: Nathasya Zallianty

Selasa, 30 Juni 2026
IHSG Berpotensi Mengalami Tekanan dan Bergerak Sideways di Level 5.300
Ilustrasi IHSG, Sumber: kumparan.

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan diproyeksikan masih akan menghadapi tekanan dalam jangka waktu pendek meskipun beberapa sentimen positif sudah mulai bermunculan. Meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta potensi perbaikan performa ekonomi domestik dinilai belum mampu mengimbangi sentimen negatif yang datang dari pelemahan nilai tukar rupiah, prospek suku bunga global, hingga persoalan tata kelola pasar modal di dalam negeri.

Seorang analis memaparkan bahwa salah satu sentimen positif muncul dari kondisi di Selat Hormuz yang mulai berangsur normal. Situasi ini mendorong harga minyak mentah Brent kembali melandai ke bawah US$80 per barel, sehingga menjadi angin segar bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara net importir minyak.

"Ini positif bagi Indonesia karena tekanan biaya impor energi dan bahan baku dapat berkurang. Aktivitas ekspor-impor juga berpotensi membaik," kata analis tersebut melalui pesan singkat pada Selasa, 30 Juni 2026.

Pemerintah bersama Bank Indonesia juga dinilai mulai mengutamakan kebijakan yang berfokus pada stabilitas ekonomi nasional. Namun di sisi lain, ketidakpastian mengenai evaluasi MSCI, prospek suku bunga di Amerika Serikat yang masih bertahan tinggi, serta fluktuasi nilai tukar rupiah diperkirakan tetap menahan aliran dana dari investor asing untuk masuk ke pasar saham Indonesia.

Kondisi tersebut tercermin nyata pada pergerakan pasar saham yang masih berada dalam posisi tertekan. Indeks Harga Saham Gabungan merosot sebesar 2,42% hingga penutupan perdagangan sesi pertama pada Selasa, 30 Juni 2026, di mana indeks ditutup pada level 5.679 pada perdagangan siang itu.

Kendati demikian, pergerakan indeks diperkirakan berpeluang bergerak menyamping dibanding melanjutkan penurunan yang lebih dalam, dengan level 5.300 menjadi area penahan yang kuat jika tekanan kembali meningkat. Proyeksi ini sejalan dengan penilaian bahwa ruang kejatuhan pasar saham sudah mulai terbatas.

Dalam jangka pendek antara satu hingga tiga bulan, indeks saham diperkirakan akan bergerak dalam kisaran level 5.500 sampai 6.000. Sementara itu, untuk jangka menengah atau enam hingga 12 bulan, indeks berpeluang melaju ke level 6.200 sampai 6.600 dengan catatan sentimen pasar membaik dan aliran dana asing kembali mengalir masuk.

Di sisi lain, kepala riset mengemukakan bahwa pembukaan kembali jalur Selat Hormuz berpotensi mengurangi tekanan fiskal bagi pemerintah melalui penurunan beban alokasi subsidi bahan bakar minyak. Selain itu, para pelaku pasar juga sedang menantikan rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal II-2026 sebagai pendorong pergerakan pasar berikutnya.

"Namun memang sentimen negatif masih cukup kuat saat ini, terutama berasal dari nilai tukar rupiah, potensi kenaikan suku bunga, serta kebijakan pemerintah yang masih menjadi sorotan pasar," kata kepala riset tersebut.

Ia memberikan saran kepada para investor jangka panjang untuk memilih strategi menunggu terlebih dahulu sampai arah pergerakan pasar menjadi lebih jelas. Sementara bagi para investor yang sedang membutuhkan dana dalam jangka pendek, instrumen investasi di pasar saham dinilai belum menjadi opsi yang tepat karena tingkat volatilitas pasar yang masih sangat tinggi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua