Dirut KS Tegaskan FTA Harus Dorong Daya Saing Sektor Industri Lokal

Focus Group Discussion (FGD) "Dampak Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) terhadap Kinerja Ekonomi dan Industrialisasi Indonesia (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:50:48 WIB

JAKARTA - Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Akbar Djohan menekankan, penerapan Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) dapat menyumbang faedah buat perekonomian sekaligus mengerek daya saing sektor industri nasional.

Akan tetapi, akses pasar yang terbuka lewat FTA mesti distabilkan dengan pengokohan sektor industri dalam negeri. “FTA harus membuka pasar sekaligus memperkuat daya saing industri nasional. Yang perlu kami lihat bukan hanya bagaimana perdagangan menjadi lebih terbuka, tetapi bagaimana keterbukaan tersebut memberikan manfaat nyata bagi perekonomian dan industri nasional,” ujar dia.

Ia menegaskan kalau sektor industri baja mempunyai dampak ganda yang masif atas rantai pasok dan sektor manufaktur terkait. Setiap US$ 1 kegiatan pada sektor industri baja dinyatakan sanggup memicu sekitar US$ 2,5 pada rantai pasok serta hingga US$ 13 pada sektor manufaktur terkait.

Oleh sebab itu, penerapan FTA wajib memedulikan dampaknya buat sektor industri nasional, termasuk penanaman modal, tingkat utilisasi pabrik, penyerapan tenaga kerja, dan keberlanjutan rantai pasok.

Krakatau Steel juga memacu agar FTA diarahkan guna membuka penetrasi pasar sekaligus menopang penanaman modal, hilirisasi, transfer teknologi, serta pengikatan daya saing sektor industri nasional.

Perkara tersebut bisa direalisasikan antara lain lewat penerapan pemulihan perdagangan (trade remedies) yang tanggap beserta pengokohan Ketentuan Asal Barang (Rules of Origin/ROO).

“Pada akhirnya, kebijakan atau skema apa pun harus dilihat dari manfaat nyatanya bagi industri dan perekonomian nasional. FTA harus menjadi instrumen untuk membuka pasar, tetapi pada saat yang sama memperkuat fondasi industrialisasi Indonesia,” tegas Akbar Djohan.

Pengokohan daya saing sektor industri nasional lewat penerapan FTA tersebut bersamaan mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, terutama agenda melanjutkan program hilirisasi dan industrialisasi demi mendongkrak nilai tambah di dalam negeri.

Pendekatan komprehensif

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai dibutuhkan pendekatan yang makin komprehensif serta berlandaskan data guna mengukur dampak dari FTA.

Pendekatan tersebut amat krusial untuk memetakan sektor industri yang terkena imbas sekaligus merancang strategi pengokohan sektor industri nasional.

"Pemerintah juga mendorong penyusunan peta jalan (roadmap) industrialisasi serta revitalisasi sektor manufaktur," jelas dia.

Reporter: Moch Febrianto