Mata Uang Rupiah Tampil Perkasa Membuka Perdagangan Kamis di Rp17.818 AS
JAKARTA - Nilai tukar rupiah bergerak naik terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di waktu awal perdagangan Kamis (20/8/2026).
Rupiah merangkak naik 0,12% menuju Rp17.818 per dolar AS. Kenaikan tercipta beriringan dengan melesunya dolar AS.
Sejumlah valuta di wilayah Asia pun bergerak naik terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia terangkat 0,49%, peso Filipina terangkat 0,3%, baht Thailand terangkat 0,15%, dan yuan China terangkat 0,1%.
Sementara itu, yen Jepang melemah 0,2%, rupee India melemah 0,08%, won Korea Selatan melemah 0,44%, dan dolar Singapura melemah 0,04%.
Pakar Ekonomi Utama Bank Mandiri Andry Asmoro mencatat bahwa indeks dolar AS atau DXY jatuh tajam 0,83% menjadi 98,83.
Situasi tersebut mencerminkan imbal hasil AS dan berkurangnya posisi long dolar AS.
Pelemahan dolar AS pun timbul secara meluas pada valuta negara berkembang sehingga membentuk latar belakang yang lebih mendukung bagi aset-aset emerging market.
Andry juga menyoroti penguatan pasar treasury yang didorong keputusan Departemen Keuangan AS untuk secara signifikan memperluas pembelian kembali surat berharga tenor panjang guna mendukung likuiditas.
Pembelian kembali untuk sektor tenor 10–20 tahun dan 20–30 tahun akan ditingkatkan menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi dari sebelumnya US$2 miliar.
Aturan tersebut berlaku mulai 9 September hingga 4 November 2026.
Maklumat tersebut mendorong imbal hasil US Treasury 30 tahun meluncur ke sekitar 5,19% dari level setinggi 5,34% di awal pekan ini.
Situasi tersebut meredakan kekhawatiran terkait aksi jual obligasi tenor panjang (duration sell-off) secara global.
Notulen FOMC Juli 2026 masih relatif hawkish.
Namun, data AS yang lebih lemah baru-baru ini terus mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga berikutnya ke waktu yang lebih jauh.
Sejumlah peserta mendukung kenaikan 25 basis poin pada pertemuan Juli, sementara banyak peserta menilai pengetatan lebih lanjut mungkin diperlukan jika inflasi tidak menurun.