India Persiapkan Reformasi Pasar Modal Guna Menarik Investor Asing Baru

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:51:44 WIB

MUMBAI - India sedang merancang pembaharuan skala besar di pasar modal demi menahan gelombang keluarnya modal asing sekaligus memperkuat daya pikat bursa lokal bagi investor dunia.

Lembaga pengawas pasar modal India, Securities and Exchange Board of India (SEBI), berniat merombak beberapa ketentuan yang sudah berjalan selama beberapa dekade.

Mengutip dari Sumbernya (20/8), tindakan itu diambil saat kepemilikan asing pada saham India tersungkur ke posisi terendah dalam kurun 17 tahun.

Pada momen bersangkutan, nilai tukar rupee telah terdepresiasi mendekati 6% selama tahun ini dan tercatat sebagai salah satu mata uang dengan performa paling lemah di Asia, tertekan kecemasan atas besarnya biaya impor serta minimnya aliran dana asing.

Beberapa pihak yang memahami diskusi itu menyatakan reformasi SEBI di antaranya meliputi pemangkasan syarat agunan untuk perdagangan saham tunai serta memacu pemanfaatan kontrak derivatif bertempo lebih panjang.

SEBI menargetkan penyesuaian itu dapat direalisasikan dalam kurun waktu sekitar sembilan bulan usai melewati tahap diskusi bersama para pelaku industri.

Perombakan ini pun bakal melengkapi langkah SEBI untuk memperluas cakupan pasar saham tunai.

Pihak regulator berniat mempermudah tindakan short selling serta melipatgandakan jumlah saham yang sanggup dimanfaatkan pada mekanisme peminjaman dan pengembalian saham.

Beban terhadap bursa India tampak dari penyusutan bobot negara itu di dalam indeks pasar negara berkembang MSCI.

Porsi India saat ini berada di bawah level 12%, merosot tajam dari titik puncaknya sebesar 21% pada September 2024.

Sementara itu, pelepasan saham India oleh pemodal luar negeri mencapai angka melebihi US$ 50 miliar pada kurun waktu Oktober 2024 sampai Juni 2026.

Investor asing telah sejak lama mendesak adanya pembenahan supaya bursa modal India dapat lebih sejajar terhadap bursa utama Asia seperti China, Korea Selatan serta Taiwan.

Kawasan pasar tersebut dianggap telah mempunyai mekanisme peminjaman serta pengembalian saham dan lelang penutupan yang lebih matang.

Penyedia indeks dunia MSCI juga bakal mengawasi efektivitas dari pembenahan tersebut.

MSCI menilai pembentukan harga penutupan, efisiensi jaminan serta agunan, transaksi peminjaman saham, aksi short selling hingga instrumen lindung nilai menjadi elemen krusial dalam mengukur tingkat aksesibilitas pasar India bagi investor institusi internasional.

Satu di antara pergeseran yang menyedot perhatian ialah penyesuaian ke bawah terhadap kebutuhan agunan bagi transaksi saham bernilai likuiditas tinggi.

Arah kebijakan ini berpeluang menekan kebutuhan modal awal pada kisaran 15% hingga 20%.

SEBI turut mengkaji pengurangan jaminan awal untuk kontrak derivatif dengan rentang waktu jatuh tempo di atas satu tahun.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu menekan ketergantungan bursa India terhadap aktivitas perdagangan derivatif jangka pendek.

Pada saat ini, kontrak derivatif bertenggat panjang di India mempuyai tingkat likuiditas yang amat minim, sehingga menyulitkan para investor yang memerlukan strategi proteksi nilai jangka panjang.

Usaha memboyong kembali investor institusi pun menjadi krusial lantaran investor ritel masih mendominasi pergerakan transaksi derivatif di India.

Data pasar menunjukkan investor ritel menyumbangkan lebih dari 35% pergerakan transaksi di India, jika dibandingkan sekitar 20% yang terjadi di Amerika Serikat.

Walaupun demikian, langkah pembaharuan itu tidak lepas dari risiko.

Penerapan skema anyar dalam menentukan harga penutupan saham pada permulaan Agustus sempat memicu gejolak tinggi pada indeks Nifty 50 serta Sensex.

SEBI bahkan belum lama ini menjatuhkan sanksi atas dua perusahaan yang disinyalir memanipulasi aktivitas perdagangan dalam skema lelang penutupan itu.

Meskipun berpotensi mendatangkan guncangan dalam jangka pendek, pembenahan pasar dinilai mampu memangkas rintangan transaksi dan menjadikan pasar India makin ramah diakses investor global.

Kendati demikian, sejumlah pengamat bursa menganggap perubahan regulasi saja tidak akan cukup untuk memicu lonjakan deras investasi pasif asing ke India.

Reporter: Moch Febrianto