Menunggu Keputusan BI, Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Turun Hari Ini

Menunggu Keputusan BI (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:28:59 WIB

JAKARTA - Pergerakan mata uang rupiah dibuka sedikit menguat atas dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Rabu pagi, (19/8/2026).

Namun demikian, analisis memperkirakan rupiah bakal berbalik turun hari ini lantaran para pelaku pasar tengah memantau hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) terkait penetapan suku bunga acuan atau BI Rate.

Mengutip laporan dari Sumbernya, posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dimulai dengan menguat sebesar dua poin atau 0,01% menuju angka 17.860 per dolar AS dari posisi penutupan kemarin di level 17.862 per dolar AS.

Walau begitu, Pengamat Ekonomi Bank Woori Saudara Rully Nova menaksir rupiah bergerak melemah lantaran sikap serba hati-hati dari para pelaku pasar dalam menyikapi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada siang hari ini.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.850-Rp17.900 dipengaruhi oleh domestik sikap hati-hati pelaku pasar mencermati hasil RDG Bank Indonesia siang nanti," ucapnya dari Sumbernya, Rabu.

Rully menduga, bank sentral akan menahan suku bunga acuan pada level 5,75%, akan tetapi bakal makin aktif pada pergerakan pasar valuta asing dan surat utang.

Deretan pengamat lainnya juga ikut memprediksi bahwa pihak BI akan mempertahankan besaran suku bunga.

Sejumlah faktor pendorongnya yakni tingkat inflasi yang sudah berhasil melandai di bawah kisaran 3% serta meningkatnya aliran modal asing yang menopang ketahanan nilai tukar rupiah.

Informasi tersebut disampaikan oleh Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman.

Selain faktor itu, ada pula berkurangnya ekspektasi penyesuaian suku bunga The Fed secara lebih cepat yang sejalan atas laporan inflasi, pasar tenaga kerja, serta kondisi sektor riil Amerika Serikat (AS) yang mulai menunjukkan tren perlambatan.

Di sisi lain, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) juga memperkirakan besaran BI-Rate bakal bertahan pada angka 5,75 persen.

Bank Sentral Masih Mempunyai Celah Mempertahankan BI Rate

Pihak BI dinilai tetap memiliki kelonggaran untuk menjaga besaran BI-Rate seiring meredanya lonjakan tekanan dari luar secara sementara lantaran ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah yang terbilang cukup terkendali pada kurun waktu beberapa minggu terakhir.

Memperhatikan kondisi sentimen mancanegara, Rully menerangkan bahwa tingkat harga minyak yang stabil di level tinggi beserta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS terutama untuk tenor jangka panjang turut memengaruhi nilai tukar rupiah.

"Obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun sempat menyentuh 5,34% dan 4,75% untuk 10 tahun," kata dia.

Reporter: Moch Febrianto