BI-Rate Diprediksi Tetap 5,75 Persen Sebab Tekanan Nilai Tukar Rupiah

BI-Rate Diprediksi Tetap 5,75 Persen (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:28:59 WIB

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi masih bakal mempertahankan BI-Rate pada tingkat 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menganggap, BI belum perlu menaikkan ataupun menurunkan tingkat suku bunga.

“Bank Indonesia diperkirakan akan kembali mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada RDG Agustus 2026, dengan suku bunga Deposit Facility 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen,” kata Josua dalam risetnya pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Berdasarkan pandangannya, BI perlu memberikan tempo untuk kenaikan suku bunga akumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni supaya bekerja, seraya tetap merawat stabilitas Rupiah lewat intervensi valas serta instrumen moneter.

"Keputusan terbaik saat ini bukan menaikkan ataupun menurunkan suku bunga, melainkan memberi waktu bagi kenaikan kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni untuk bekerja," tegasnya.

Ia menyampaikan inflasi domestik belum memberikan dorongan bagi BI untuk menaikkan tingkat suku bunga.

Inflasi Juli tercatat mengalami deflasi 0,14 persen secara bulanan dan merosot menjadi 2,88 persen secara tahunan dari 3,34 persen pada Juni.

Inflasi inti pun masih terkondisikan pada level 2,76 persen.

Kendati demikian, keadaan itu dinilai belum memadai jadi landasan pemangkasan suku bunga lantaran tekanan luar negeri masih membayangi.

Indeks harga komoditas impor Juli merangkak 12,50 persen secara tahunan, sementara nilai Rupiah masih terdepresiasi 10,53 persen.

“Dengan kata lain, inflasi saat ini jinak, tetapi risiko kenaikan harga akibat pelemahan Rupiah dan harga komoditas masih cukup besar. Ini memberikan alasan kuat untuk menahan, bukan memangkas suku bunga," ujarnya.

Pada sisi yang lain, BI wajib mewaspadai pembengkakan defisit transaksi berjalan.

Josua memperkirakan defisit transaksi berjalan sepanjang tahun 2026 menembus 36,15 miliar Dolar AS atau 2,46 persen terhadap PDB, amat melebihi ketimbang 0,11 persen terhadap PDB pada 2025.

Kondisi tersebut muncul sewaktu surplus perdagangan menyusut, sedangkan impor tetap deras.

Di triwulan II, ekspor cuma tumbuh 4,13 persen, sementara impor melejit 8,82 persen.

"Permintaan Dolar dari aktivitas ekonomi meningkat lebih cepat daripada tambahan pasokan devisa dari ekspor," jelasnya.

Cadangan devisa juga tergerus dari 156,47 miliar Dolar AS pada akhir 2025 menjadi sekitar 145,3 miliar Dolar AS pada akhir Juli 2026.

Walaupun masih setara 5,5 bulan impor, kecenderungan itu menuntut BI agar cermat dalam mengendalikan stabilitas Rupiah.

“BI memiliki amunisi yang cukup, tetapi tidak ideal apabila stabilisasi Rupiah terus dilakukan terutama dengan menjual cadangan devisa. Menahan BI-Rate pada 5,75 persen membantu mengurangi kebutuhan intervensi tersebut dengan mempertahankan daya tarik imbal hasil Rupiah,” sambungnya.

Di samping itu, aliran modal asing dinilai mulai membaik, khususnya ke SRBI.

Kepemilikan nonresiden pada SRBI merangkak dari sekitar Rp287,06 triliun pada akhir Juli menjadi Rp301,95 triliun per 13 Agustus.

Menurut Josua, keadaan tersebut memperlihatkan pemikat imbal hasil instrumen BI masih vital bagi stabilitas Rupiah.

Maka dari itu, pemotongan BI-Rate yang terlalu cepat berisiko mengikis daya pikat aset Rupiah.

Melihat dari aspek global, inflasi AS yang mulai melandai turut membuat BI tak perlu menaikkan suku bunga.

Namun demikian, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun bertahan tinggi pada kisaran 4,7 persen sehingga guncangan eksternal belum sepenuhnya reda.

Lantaran mempertimbangkan hal tersebut, Josua konsisten menahan proyeksi BI-Rate di tingkat 5,75 persen hingga penutup 2026.

"Menahan suku bunga sambil memperkuat intervensi dan daya tarik instrumen Rupiah memberikan perbandingan manfaat dan biaya yang lebih baik dibandingkan menaikkan ataupun menurunkan BI-Rate," pungkasnya.

Reporter: Moch Febrianto