Won Korea Selatan Perkasa di Asia, Kurs Rupiah Masih Melorot Rabu Ini

Won Korea Selatan Perkasa di Asia (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:28:59 WIB

JAKARTA - Kurs sejumlah mata uang di kawasan Asia berfluktuasi bervariasi menghadapi dolar AS pada transaksi Rabu (19/8/2026).

Mata uang won Korea Selatan tampil sebagai mata uang dengan lonjakan terbesar, di saat rupiah tetap terjebak dalam jalur pelemahan.

Merujuk pada data dari Sumbernya di jam 02.02 GMT, won Korea Selatan terangkat 0,44% ke level 1.406,30 per dolar AS.

Lompatan ini menempatkan won sebagai mata uang Asia berkinerja paling unggul pada transaksi itu.

Mata uang won turut membukukan hasil positif sepanjang kurun tahun berjalan.

Sampai tanggal 19 Agustus 2026, won telah terapresiasi 2,36% terhadap mata uang dolar AS ketimbang posisi pada penutupan 2025.

Selain won, yen Jepang merangkak naik 0,12% ke 159,43 per dolar AS, dolar Taiwan menguat 0,10% menjadi 31,912, dolar Singapura terangkat tipis 0,01% pada 1,278, sedangkan yuan China meningkat 0,03% menuju 6,743 per dolar AS.

Secara bertolak belakang, sederet mata uang Asia terkikis.

Baht Thailand melorot 0,14% menjadi 33,128 per dolar AS, ringgit Malaysia tergerus 0,14% menuju 4,062, sementara peso Filipina menyusut 0,13% ke posisi 61,834.

Rupiah Masih Tertekan

Mata uang rupiah juga tercatat melorot tipis 0,03% menuju posisi Rp17.855 per dolar AS dari posisi lampau di Rp17.850 per dolar AS.

Dinamika rupiah tersebut menyambung tren penurunan yang berlangsung sepanjang kurun tahun berjalan.

Berdasarkan laporan data dari Sumbernya, rupiah telah terdevaluasi sebesar 6,64% terhadap dolar AS bila dihitung dari akhir 2025.

Penurunan rupiah menjadi salah satu yang terhebat di antara deretan mata uang Asia pada rentang waktu itu.

Cuma baht Thailand yang terhempas lebih buruk, yakni 5,06%, sewaktu rupee India jatuh 6,07% dan peso Filipina menyusut 4,91%.

Untuk kawasan Asia, ringgit Malaysia terbilang stabil dalam perhitungan tahunan lewat perubahan berkisar 0,14%, sedangkan dolar Singapura justru menguat 0,58%.

Tekanan Dolar dan Geopolitik Jadi Perhatian

Laju pergerakan mata uang Asia berlangsung sewaktu para pelaku pasar memantau cermat arah kebijakan Federal Reserve dan merangkaknya hasil obligasi global.

Sebelumnya, peningkatan yield obligasi tenor panjang dari Amerika Serikat, Jepang dan Jerman turut melimpahkan beban bagi mata uang pasar berkembang.

Keadaan demikian dapat menaikkan daya tarik aset berdenominasi dolar sekaligus memperbesar ancaman capital outflow dari pasar berkembang.

Di sisi lain, pergeseran geopolitik di wilayah Timur Tengah juga menyita perhatian lantaran berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia.

Bangsa-bangsa layaknya Indonesia dan India yang mengantongi tingkat impor energi cukup masif bakal relatif lebih sensitif atas pergerakan harga minyak.

Oleh sebab itu, pergerakan nilai rupiah serta mata uang Asia ke depan tetap dipengaruhi oleh paduan arah kebijakan The Fed, pergerakan yield Treasury AS, harga komoditas energi serta eskalasi geopolitik global.- Kurs sejumlah mata uang di kawasan Asia berfluktuasi bervariasi menghadapi dolar AS pada transaksi Rabu (19/8/2026).

Mata uang won Korea Selatan tampil sebagai mata uang dengan lonjakan terbesar, di saat rupiah tetap terjebak dalam jalur pelemahan.

Merujuk pada data dari Sumbernya di jam 02.02 GMT, won Korea Selatan terangkat 0,44% ke level 1.406,30 per dolar AS.

Lompatan ini menempatkan won sebagai mata uang Asia berkinerja paling unggul pada transaksi itu.

Mata uang won turut membukukan hasil positif sepanjang kurun tahun berjalan.

Sampai tanggal 19 Agustus 2026, won telah terapresiasi 2,36% terhadap mata uang dolar AS ketimbang posisi pada penutupan 2025.

Selain won, yen Jepang merangkak naik 0,12% ke 159,43 per dolar AS, dolar Taiwan menguat 0,10% menjadi 31,912, dolar Singapura terangkat tipis 0,01% pada 1,278, sedangkan yuan China meningkat 0,03% menuju 6,743 per dolar AS.

Secara bertolak belakang, sederet mata uang Asia terkikis.

Baht Thailand melorot 0,14% menjadi 33,128 per dolar AS, ringgit Malaysia tergerus 0,14% menuju 4,062, sementara peso Filipina menyusut 0,13% ke posisi 61,834.

Rupiah Masih Tertekan

Mata uang rupiah juga tercatat melorot tipis 0,03% menuju posisi Rp17.855 per dolar AS dari posisi lampau di Rp17.850 per dolar AS.

Dinamika rupiah tersebut menyambung tren penurunan yang berlangsung sepanjang kurun tahun berjalan.

Berdasarkan laporan data dari Sumbernya, rupiah telah terdevaluasi sebesar 6,64% terhadap dolar AS bila dihitung dari akhir 2025.

Penurunan rupiah menjadi salah satu yang terhebat di antara deretan mata uang Asia pada rentang waktu itu.

Cuma baht Thailand yang terhempas lebih buruk, yakni 5,06%, sewaktu rupee India jatuh 6,07% dan peso Filipina menyusut 4,91%.

Untuk kawasan Asia, ringgit Malaysia terbilang stabil dalam perhitungan tahunan lewat perubahan berkisar 0,14%, sedangkan dolar Singapura justru menguat 0,58%.

Tekanan Dolar dan Geopolitik Jadi Perhatian

Laju pergerakan mata uang Asia berlangsung sewaktu para pelaku pasar memantau cermat arah kebijakan Federal Reserve dan merangkaknya hasil obligasi global.

Sebelumnya, peningkatan yield obligasi tenor panjang dari Amerika Serikat, Jepang dan Jerman turut melimpahkan beban bagi mata uang pasar berkembang.

Keadaan demikian dapat menaikkan daya tarik aset berdenominasi dolar sekaligus memperbesar ancaman capital outflow dari pasar berkembang.

Di sisi lain, pergeseran geopolitik di wilayah Timur Tengah juga menyita perhatian lantaran berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia.

Bangsa-bangsa layaknya Indonesia dan India yang mengantongi tingkat impor energi cukup masif bakal relatif lebih sensitif atas pergerakan harga minyak.

Oleh sebab itu, pergerakan nilai rupiah serta mata uang Asia ke depan tetap dipengaruhi oleh paduan arah kebijakan The Fed, pergerakan yield Treasury AS, harga komoditas energi serta eskalasi geopolitik global.

Reporter: Moch Febrianto