Nasib Mata Uang Asia Beragam: Won dan Yen Menguat, Rupiah Melemah Pagi Ini

Nasib Mata Uang Asia Beragam (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:28:59 WIB

JAKARTA - Mata uang kawasan Asia bergerak secara tidak seragam pada sesi perdagangan pagi ini, Rabu (19/8/2026). Dolar Amerika Serikat (AS) memang mengalami penurunan tipis pada pasar global, namun respons dari mata uang di Asia tampak beragam.

Melihat data Refinitiv hingga pukul 09.17 WIB, ada sebanyak empat dari total 10 mata uang Asia yang diamati sukses menguat atas dolar AS. Pada waktu bersamaan, empat mata uang mencatatkan penurunan dan dua mata uang lainnya bertahan stabil.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tingkat penguatan paling tinggi di wilayah Asia pada pagi ini. Won melaju 0,49% mencapai level KRW 1.405,72/US$.

Yen Jepang menyusul di belakangnya melalui kenaikan 0,14% menuju level JPY 159,4/US$. Dolar Taiwan turut merangkak positif lewat penguatan 0,12% menuju TWD 31,888/US$, sedangkan dolar Singapura terkerek 0,05% mencapai SGD 1,277/US$.

Pada sisi berlawanan, peso Filipina tercatat sebagai mata uang yang mendapatkan tekanan paling berat di Asia. Peso terdepresiasi 0,17% menuju posisi PHP 61,860/US$.

Baht Thailand ikut terkoreksi sebesar 0,15% ke level THB 33,10/US$, mengekor ringgit Malaysia yang merosot 0,10% menjadi MYR 4,060/US$.

Rupiah pun belum sanggup keluar dari lingkaran tekanan. Mata uang Garuda melorot 0,06% menuju posisi Rp17.860/US$.

Di tempat berbeda, yuan China dan dong Vietnam terpantau bergerak stagnan di posisi CNY 6,742/US$ serta VND 26.174/US$.

Dinamika dari mata uang Asia pagi hari ini masih terpengaruh oleh kondisi dolar AS. Indeks dolar AS atau DXY pada kurun waktu yang sama terlihat melemah tipis sebesar 0,04% menuju angka 99,618.

Mata uang dolar AS masih bergerak terbatas terhadap deretan mata uang utama dunia. Pasar pada saat ini terus menakar potensi respons yang lebih melunak dari The Federal Reserve/The Fed usai serangkaian data ekonomi AS memperlihatkan penurunan.

Dalam rentang beberapa pekan terakhir, indikator ekonomi AS menyajikan sinyal pelambatan. Mulai dari penurunan di pasar tenaga kerja, data inflasi yang kian mereda, sampai ekspektasi bahwa The Fed tak akan terburu-buru untuk menaikkan lagi tingkat suku bunga.

Ekspektasi para pelaku pasar terkait rapat September mendatang turut bergeser. Prospek kenaikan suku bunga 25 basis poin sekarang berganti menjadi peluang The Fed mempertahankan suku bunga yang mendekati angka 70%, setelah pada masa sebelumnya pasar cukup yakin memperkirakan adanya kenaikan.

Eugene Epstein, head of structured products Moneycorp North America, berpendapat pergerakan dolar pada saat ini memperlihatkan pergeseran pandangan pasar atas arah kebijakan The Fed.

"Level saat ini, khususnya pasangan mata uang berbasis dolar, mencerminkan kejutan dovish yang terlihat pada rapat The Fed terakhir atau setidaknya interpretasi pasar terhadap sikap dovish tersebut," ujar Epstein, dikutip dari Sumbernya.

Berdasarkan penuturan Eugene, Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya nampak berorientasi hawkish saat menjelang penetapan suku bunga terbaru. Kendati begitu, pasar pada saat ini tidak lagi menafsirkan sikap itu sekuat sebelumnya, terlebih usai data inflasi dan sektor ketenagakerjaan tak memperlihatkan tekanan besar.

Pihak Scotiabank juga memperkirakan peluang lonjakan suku bunga The Fed pada bulan September menjadi kian minim.

"Inflasi yang jinak dan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS membuat kenaikan suku bunga The Fed pada September sangat tidak mungkin pada titik ini," tulis analis Scotiabank yang dipimpin Shaun Osborne, dikutip dari Sumbernya.

Walau demikian, dolar AS dinilai belum sepenuhnya kehilangan daya dorong. Potensi risiko inflasi masih terus menjadi fokus lantaran konflik AS-Iran belum mereda dan akses Selat Hormuz masih terblokir secara efektif. Kondisi tersebut terus memicu kecemasan atas kelancaran pasokan energi serta fluktuasi harga minyak.

Tingkat imbal hasil obligasi global pun kembali merangkak naik akibat pasar mencermati dampak dari harga energi terhadap inflasi. Hasil Treasury AS tenor 30 tahun bahkan melesat ke posisi tertinggi sejak tahun 2007, di saat harga minyak Brent terus bertahan di kisaran US$91,02 per barel.

Reporter: Moch Febrianto