Pasar Minyak Menguat Imbas Isu Eskalasi Konflik Dan Selat Hormuz 2026

Selat Hormuz 2026 (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 10 Agustus 2026 | 13:11:13 WIB

JAKARTA - Tarif minyak internasional bergerak naik pada perdagangan Senin, (10/8/2026) di tengah keraguan yang belum usai mengenai pembukaan ulang Selat Hormuz.

Kondisi ini mengekor kabar Iran bahwasanya kesepahaman bersama Oman perihal penetapan alur pelayaran baru telah sampai pada babak akhir.

Meskipun begitu, AS masih diwajibkan memenuhi sejumlah tuntutan lanjutan.

Mengutip dari Sumbernya, Senin pekan ini, tarif minyak mentah Brent naik US$ 1,2 atau 1,44% menjadi US$ 84,79 pada pukul 22.06 GMT.

Sementara itu, tarif minyak West Texas Intermediate (WTI) bertambah US$ 1,12 atau 1,08% menjadi US$ 79,29 per barel.

Kedua patokan harga minyak tersebut sebelumnya telah melorot lebih dari 7% pekan lalu di tengah asa Iran dan Oman hampir mencapai kesepakatan yang bakal mendistribusikan ulang aliran Selat Hormuz, jalur yang melayani pengangkutan pasokan minyak dunia sebelum perang pecah.

Walaupun Iran pada Minggu membeberkan, pemufakatan dengan Oman sudah memasuki "tahap akhir", pemerintah mereka menegaskan kembali lintasan bahari tersebut baru bakal dibuka kembali setelah Washington melunasi syarat-syarat lain, termasuk pemberian kompensasi dari AS kepada Iran atas serangan-serangan luas yang terjadi.

"Para pelaku pasar sudah terbiasa dengan dinamika negosiasi yang sering kali maju-mundur dan kini menantikan bukti nyata, seperti pergerakan kapal tanker yang terverifikasi atau kesepakatan resmi, sebelum mereka lebih jauh mengurangi premi risiko," ujar Analis pasar di KCM Trade, Tim Waterer.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menuturkan, Iran dan AS tidak sedang melakukan perundingan, dan Teheran tidak akan memulainya selama Washington melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni.

Dalam ancaman ekstra pada pasokan, sebuah kilang minyak kepunyaan Arab Saudi disasar pada akhir pekan lalu.

Faksi Houthi yang bergandengan dengan Iran menyatakan telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada Minggu.

Insiden ini mengemuka dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan sekutu sesama negara Muslim Sunni, yakni Turki dan Pakistan, sebagai balasan terhadap meningkatnya ketidakstabilan kawasan akibat perang antara AS-Israel melawan Iran yang berhaluan Syiah.

Secara terpisah, entitas bisnis ADNOC milik Uni Emirat Arab pada Jumat menyibak bahwa 15 kapal miliknya telah diserang saat melintasi Selat Hormuz sejak konflik bermula.

Reporter: Moch Febrianto