BRIN Menghadirkan Wadah Simpan CNG Tekanan Rendah Alternatif LPG Impor

BRIN Menghadirkan Wadah Simpan CNG (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:44:52 WIB

JAKARTA - Lembaga Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenalkan teknologi penampungan compressed natural gas (CNG) bertekanan rendah.

Teknologi tersebut dapat berperan dalam menekan keterikatan pada liquified petroleum gas (LPG) yang mayoritas didatangkan dari luar negeri.

Kepala Pusat Penelitian Teknologi Polimer BRIN, Joddy Arya Laksmono, memaparkan teknologi tempat penyimpanan CNG itu di depan Presiden Prabowo Subianto.

Tabung yang dikembangkan oleh BRIN tersebut mampu memuat CNG pada tekanan kisaran 30 bar.

"Ini adalah alternative technology kami pak yang CNG, tapi tekanannya bisa sampai 30 bar pak tidak sampai 200 bar dan volumenya juga lebih banyak, satu setengah kalinya," kata Joddy saat mempresentasikan tabung CNG ke Presiden di Istana Kepresidenan Jakarta, dikutip Sabtu (8/8/2026).

"Jadi kalau memang nanti masyarakat menggunakan ini, misalkan satu kali penggunaan seminggu, itu, LPG, ini (CNG) bisa satu, sepuluh hari, lima belas hari begitu, satu setengah kali untuk sementara," imbuh dia.

Bahan baku yang dapat ditampung yaitu berupa gas alami atau natural gas C1 dan C2 yang stoknya amat melimpah di Tanah Air.

Oleh sebab itu, penggunaannya sanggup memangkas ketergantungan impor LPG.

Bentuk tabung tidak sama dengan umumnya.

Tabung CNG tersebut berwujud menyerupai kotak.

Ada petunjuk bahan berongga atau Metal Organic Frameworks (MOF).

Pengembangan MOF

Mengutip situs resmi dari Sumbernya, Metal Organic Frameworks (MOF) menawarkan solusi penampungan gas alami (metana) yang prospektif sebagai substitusi LPG untuk kebutuhan dapur rumah tangga.

Hal ini berkat kemampuannya memuat gas pada tekanan lebih kecil, potensi kepadatan energi volumetrik yang kompetitif, serta fleksibilitas.

Kepala Pusat Penelitian Teknologi Polimer Lembaga Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Joddy Arya Laksmono, menyebutkan bahwa kini BRIN telah berhasil merancang MOF dengan daya hisap gas mendekati 95% dan pengujian sudah mencapai 700 kali siklus.

“Target kami 1000 siklus, artinya MOF bisa digunakan selama minimal 5 tahun. Setelah itu, hanya MOF-nya saja yang diganti tetapi tabung tetap sama,” kata Joddy, seperti dikutip.

Perbandingan Kinerja

Menurut Joddy, dalam pembuatan teknologi MOF ini tim peneliti turut memperbandingkan performa antara MOF, LPG maupun CNG, baik dari aspek teknis, efisiensi maupun nilai keekonomiannya.

LPG, CNG, dan ANG adalah bahan bakar gas yang menawarkan emisi lebih kecil dibanding bahan bakar fosil konvensional.

LPG disimpan dalam bentuk cairan pada tekanan relatif rendah sehingga mempunyai kerapatan energi yang tinggi serta infrastruktur yang telah siap.

CNG menggunakan gas alam yang dipadatkan hingga tekanan amat tinggi (200–250 bar), menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah tetapi memerlukan wadah penyimpanan yang kuat serta mahal.

Sementara itu, ANG ialah teknologi penyimpanan gas alam memakai materi adsorben berpori seperti MOF (Metal-Organic Framework), sehingga gas dapat disimpan pada tekanan yang jauh lebih rendah dibanding CNG.

Hal ini memberikan keuntungan dari segi keselamatan, efisiensi penyimpanan, serta potensi pengurangan ongkos sistem, walaupun teknologi ANG masih memerlukan pembuatan lanjutan demi mencapai skala komersial secara luas.

Reporter: Moch Febrianto