Bazar Cinta Rupiah Yayasan Muslih Center Sambut Kemerdekaan RI di Nunukan

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Sabtu, 08 Agustus 2026
Bazar Cinta Rupiah Yayasan Muslih Center Sambut Kemerdekaan RI di Nunukan
Bazar Cinta Rupiah Yayasan Muslih Center (FOTO: NET)

NUNUKAN - Antusiasme menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa sangat istimewa di daerah perbatasan RI–Malaysia.

Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara melalui PAUD Islam Al-Hiro dan SD Islam Al-Hiro melaksanakan Bazar Cinta Rupiah pada Kamis (6/8), mulai jam 08.00 WITA sampai selesai, berlokasi di Teras Masjid Islahul Ummah, Desa Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan.

Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Semarak Kemerdekaan Republik Indonesia ini menyajikan konsep edukasi yang berbeda.

Kurang lebih 50 lapak bazar dikelola secara langsung oleh murid PAUD dan SD Islam Al-Hiro dengan pendampingan tenaga pengajar serta orang tua.

Bermacam produk Indonesia diperjualbelikan, mulai dari kuliner tradisional, aneka kudapan, minuman, cenderamata, hingga produk olahan lainnya.

Seluruh transaksi selama acara wajib memakai Rupiah sebagai penerapan nyata Gerakan Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara, Dr. Wahyudi, bersama Pemerintah Kecamatan Sebatik Timur lewat Kasi Pemerintahan Kecamatan Sebatik Timur, M. Alatas, yang hadir mewakili Camat Sebatik Timur.

Turut hadir pula utusan Pemerintah Desa Sungai Nyamuk, Bhabinkamtibmas Desa Sungai Nyamuk, seluruh orang tua murid, warga sekitar Masjid Islahul Ummah, khususnya warga di empat RT sekitar lokasi acara, serta masyarakat Sebatik yang memadati area bazar.

Di dalam sambutannya, Wahyudi menegaskan bahwa Bazar Cinta Rupiah bukan sekadar acara seremonial untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan, melainkan sebuah proses pembentukan karakter yang dirancang agar anak-anak merasakan langsung nilai-nilai kebangsaan lewat praktik kehidupan sehari-hari.

"Kegiatan ini bukan sekadar simbol, jargon, atau seremoni cinta Rupiah dan cinta tanah air. Yang kami bangun adalah praktik nyata melalui pembiasaan (habituasi) kepada Generasi Alpha pada masa emas pertumbuhannya. Anak-anak belajar berdagang dengan jujur, melayani pembeli, menghitung uang, berkomunikasi, bekerja sama, mencintai produk Indonesia, sekaligus membiasakan menggunakan Rupiah dalam setiap transaksi. Di sinilah karakter, jiwa wirausaha, dan rasa cinta tanah air dibentuk sejak usia dini," ujar Wahyudi.

Menurut pandangannya, pendekatan tersebut sangat pas diterapkan di Pulau Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Dalam aktivitas harian, masyarakat tidak bisa dilepaskan dari kegiatan ekonomi lintas negara yang identik dengan penggunaan mata uang Ringgit Malaysia serta maraknya produk dari negara tetangga.

Oleh sebab itu, pendidikan karakter kebangsaan harus diawali sejak usia dini supaya rasa cinta terhadap Indonesia tumbuh secara alami lewat pengalaman nyata.

Wahyudi menerangkan bahwa acara ini juga merupakan penerapan dari hasil riset doktoralnya yang meneliti penanaman nilai-nilai cinta tanah air bagi masyarakat di daerah batas negara.

Menurut pandangannya, hasil riset tersebut memperlihatkan bahwa jiwa nasionalisme tidak cukup dibina lewat ceramah, slogan, atau seremoni, melainkan harus diwujudkan lewat pembiasaan yang berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari.

"Disertasi doktoral saya berbicara tentang bagaimana menanamkan cinta tanah air kepada masyarakat perbatasan. Salah satu kesimpulannya adalah nasionalisme akan lebih kuat apabila dibangun melalui pengalaman nyata. Karena itu, Yayasan Muslih Center Kaltara menghadirkan Bazar Cinta Rupiah sebagai ruang belajar bagi anak-anak untuk mencintai Indonesia melalui tindakan sederhana, seperti bangga menggunakan Rupiah, mencintai produk Indonesia, melayani pembeli dengan jujur, dan belajar mandiri melalui kewirausahaan sejak usia dini," jelasnya.

Sementara itu, mewakili Camat Sebatik Timur, M. Alatas, menyampaikan penghargaan sekaligus dukungan penuh atas terselenggaranya Bazar Cinta Rupiah.

Menurut pandangannya, kegiatan tersebut merupakan trobosan pendidikan yang sanggup memadukan pendidikan karakter, pemahaman keuangan, jiwa kewirausahaan, serta nasionalisme dalam satu acara yang menyenangkan dan dekat dengan keseharian anak-anak.

Sepanjang bazar berlangsung, para siswa terlihat penuh semangat menawarkan barang dagangan, melayani pembeli, menerima pembayaran menggunakan Rupiah, memberikan uang kembalian, hingga belajar berinteraksi bersama masyarakat.

Orang tua dan warga sekitar turut memadati tempat acara dengan membeli berbagai macam produk yang dijual anak-anak sebagai bentuk dukungan atas proses belajar mereka.

Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara sendiri menaungi lembaga pendidikan formal serta nonformal, yakni PAUD Islam Al-Hiro, SD Islam Al-Hiro, dan TPQ Al-Hiro.

Lewat pelbagai program kreatif, pihak yayasan berkomitmen menyajikan pendidikan yang bukan hanya unggul dalam hal akademik, melainkan juga membentuk kepribadian Islami, jiwa kepemimpinan, semangat berwirausaha, kepedulian sosial, serta nasionalisme yang kokoh.

Bazar Cinta Rupiah membuktikan bahwa pembentukan karakter dapat diwujudkan lewat aktivitas sederhana tetapi memberikan dampak yang besar.

Dari teras Masjid Islahul Ummah di batas terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia, anak-anak belajar bahwa mencintai negara tidak cukup hanya diucapkan, tetapi wajib dipraktikkan lewat tindakan nyata: bangga memakai Rupiah, mencintai produk Indonesia, berani berwirausaha, serta tumbuh menjadi generasi yang mandiri.

Lewat agenda ini, Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara berharap lahir generasi wilayah perbatasan yang tetap teguh mencintai Indonesia, bangga pada Rupiah, menghargai produk dalam negeri, dan siap menjadi penerus yang mampu menjaga identitas kebangsaan di tengah dinamika daerah perbatasan RI–Malaysia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua