Rincian Harga Perak Antam Hari Ini 8 Agustus 2026 Naik Tinggi Rp 1.300

Rincian Harga Perak Antam Hari Ini 8 Agustus 2026 (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:44:52 WIB

JAKARTA - Angka jual perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan pada sesi perdagangan Sabtu, (8/8/2026).

Angka jual perak Antam pada hari ini melesat mengekor tren angka jual perak internasional serta angka jual emas Antam.

Melansir dari logammulia.com, angka jual perak Antam pada hari ini bertambah Rp 1.300 menuju Rp 42.550.

Pada sesi perdagangan lalu, angka jual perak Antam berada pada level Rp 41.250.

Lalu seperti apa perkembangan angka jual perak internasional?

Melansir dari tradingeconomics.com, angka jual perak internasional melonjak 3,32% menuju US$ 63,54.

Angka jual perak bertambah hingga melampaui US$ 63,5 per ons pada Jumat waktu setempat, posisi paling tinggi sepanjang tujuh pekan, di tengah peninjauan ulang pasar atas peluang the Federal Reserve mengerek suku bunga pada tahun ini.

Laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan penurunan jumlah tenaga kerja (payroll) secara mengejutkan, sehingga mempersempit celah untuk mengerek suku bunga demi menahan laju inflasi.

Walau begitu, angka jual bahan bakar dan gas alam secara umum bertahan di level rendah setelah penurunan Agustus, seiring usaha pemerintah AS menuntaskan kesepakatan bersama Iran untuk membuka kembali pengiriman energi dari Teluk Persia.

Meredanya ancaman lonjakan suku bunga menekan imbal hasil (yield) dan memberikan keuntungan bagi logam mulia.

Pada sudut lain, konsumsi industri terhadap perak turut menopang angka jual, dengan pasokan impor bijih yang mengandung perak oleh Tiongkok melonjak 62,5% secara tahunan pada bulan Juni menjadi 219.000 ton.

Laporan ini selaras dengan peninggian aktivitas manufaktur panel surya dan jaringan listrik.

Akan tetapi, ancaman kenaikan kembali angka jual energi yang masih mengintai menjadikan angka jual perak tetap berada cukup dekat dengan batas terendah tujuh bulan pada level $55 per ons yang terekam pada 16 Juli.

Sebelumnya, angka jual emas internasional melambung pada sesi perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026 (Sabtu pagi Jakarta) hingga menyentuh level paling tinggi sepanjang tujuh pekan.

Kenaikan angka jual emas internasional ini terjadi usai pemangkasan tak terduga pada laporan non-farm payrolls Amerika Serikat (AS) pada Juli menghempaskan ekspektasi kenaikan suku bunga dan mengarahkan emas menuju pencapaian mingguan tertinggi sepanjang tujuh bulan.

Melansir dari CNBC, Sabtu (8/8/2026), angka jual emas spot melompat 2,3% menuju US$ 4.336,11 per ons setelah sempat terangkat lebih dari 3% ke batas paling tinggi sejak 17 Juni.

Emas diproyeksikan membukukan kenaikan mingguan terbesar sejak 19 Januari.

Angka jual emas telah terangkat lebih dari 7% sepanjang pekan ini.

Pasar berjangka emas AS menguat 2,3% menuju US$ 4.396,9.

Laporan non-farm payrolls menunjukkan pemangkasan hingga 23.000 posisi kerja bulan lalu menyusul penyesuaian ke bawah angka kenaikan Juni menjadi 20.000, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS.

Beberapa ekonom yang disurvei dari Sumbernya sebelumnya memprediksi kenaikan lapangan kerja sebanyak 80.000 bulan lalu.

"Data lapangan kerja yang lebih lemah dari perkiraan menciptakan skenario di mana The Fed kemungkinan kecil akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya," ujar Direktur High Ridge Futures, David Meger.

Meger memaparkan, penurunan angka jual energi dan minimnya peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (the Fed) sama-sama menandakan penurunan dolar serta penguatan angka jual emas.

Transaksi berjangka suku bunga saat ini memperhitungkan peluang sebanyak 43,9% bagi pengetatan aturan The Fed pada September, dibandingkan 57% sebelum laporan lapangan kerja diterbitkan, menurut data LSEG.

Peluang The Fed untuk membiarkan suku bunga tetap bertahan bulan depan terangkat menjadi 60,4%, dibandingkan 43,2% tepat sebelum laporan tersebut diterbitkan.

Suku bunga yang lebih rendah membuat emas lebih diminati dibandingkan instrumen yang memberikan imbal hasil (yield), lantaran emas tidak menghasilkan bunga.

UBS memperkirakan angka jual emas akan terangkat sampai US$ 5.000 per ons pada paruh awal 2027, berdasarkan laporan tertulis yang diterbitkan pada Jumat.

Sisi geopolitik menunjukkan, Presiden AS Donald Trump memaparkan kepada para wartawan bahwa beliau yakin perselisihan dengan Iran akan segera usai.

Di antara komoditas logam lainnya, angka jual perak pada pasar spot terangkat 3% menuju US$ 63,31 per ons, platinum menguat 1,2% menuju US$ 1.749,95, serta paladium naik 0,8% menuju US$ 1.380,53.

Ketiga komoditas logam tersebut mencatatkan kenaikan mingguan.

Reporter: Moch Febrianto