Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II 2026 Tembus Angka 5,29 Persen

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:44:52 WIB

JAKARTA - Pemimpin Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani memantau pencapaian positif dari perkembangan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026. Namun, terdapat beberapa hambatan yang dihadapi pelaku bisnis pada masa tersebut.

Diketahui, ekonomi RI berkembang 5,29% pada kuartal II-2026 secara tahunan (year on year). Angka itu memperlihatkan penurunan dari pertumbuhan kuartal I 2026 sebesar 5,61%. Shinta berharap pola kenaikan dapat berlangsung hingga akhir 2026.

"Kami tentu mengapresiasi data capaian pertumbuhan Q2 2026 yang mencapai 5,29% yoy. Ini adalah capaian yang sangat positif dan perlu kami pastikan agar dapat bertahan, bahkan naik ke depannya hingga akhir tahun," kata Shinta dalam pernyataan yang diterima dari Sumbernya, Sabtu (8/8/2026).

Dia mengakui adanya penurunan pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satunya dipantau dari tekanan bagi sektor usaha di Tanah Air. Kuartal II 2026 dinilai menjadi masa yang cukup berat untuk pengusaha.

"Banyak industri yang mengalami cost-push inflation akibat imbas konflik di Selat Hormuz dan efek pelemahan nilai tukar terhadap peningkatan beban biaya produksi dan bahan baku impor," ucap dia.

Dia menerangkan, pergesekan Selat Hormuz utamanya berdampak pada kenaikan tarif energi, seperti bahan bakar minyak (BBM). Pada momen yang sama, biaya logistik juga ikut terkena efek.

Shinta juga memandang adanya hambatan dari sisi permintaan ekspor untuk komoditas Indonesia. Pergesekan geopolitik kembali memiliki pengaruh pada daya beli sejumlah negara.

"Di kuartal dua sektor riil juga banyak yang mengalami tekanan permintaan ekspor dari berbagai negara rekan dagang Indonesia karena konflik geopolitik turut menyebabkan penurunan daya beli di sejumlah negara yang mengalami shock harga migas yang lebih dalam dibandingkan Indonesia," beber dia.

Permintaan ekspor pada kuartal II 2026 juga disebut terganggu akibat pemeriksaan perdagangan Amerika Serikat (AS) pada Indonesia. "Belum lagi, pasar domestik juga sempat mengalami perlambatan permintaan karena kenaikan harga BBM," katanya.

"Aktivitas ekonomi di sektor riil setidaknya yang dialami pelaku usaha sepanjang Q2 2026 cukup berat sehingga kurang mendukung adanya ekspansi kegiatan usaha," Shinta menambahkan.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia berkembang 5,29% pada kuartal II 2026. Pengeluaran rumah tangga tercatat menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud menyampaikan pengeluaran rumah tangga menyumbang besar pada produk domestik bruto (PDB) dalam komponen pengeluaran.

"Komponen pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar pada PDB adalah konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 53,32% dan tumbuh 5,06 % (year on year)," kata Edy dalam rilis BPS, Rabu (5/8/2026).

Dia menerangkan, peningkatan pengeluaran rumah tangga dipicu oleh suasana liburan yang berlangsung sepanjang kuartal II-2026. Bagian pengeluaran rumah tangga yang meningkat tinggi yakni restoran dan hotel sebesar 6,47%. Di samping itu, bidang transportasi dan komunikasi juga naik sebesar 5,71%.

"Kalau kita dalami perkembangan pertumbuhan komponen pendorong utama ekonomi dari sisi pengeluaran kita bisa lihat bahwa konsumsi rumah tangga tumbuh menguat didorong oleh momen hari libur dan hari besar keagamaan," jelas dia.

Selain itu, komponen Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) turut menyumbang 29,36% dan berkembang 6,87% secara tahunan. PMTB juga berkembang positif terlihat pada sejumlah penanda investasi.

Seperti bagian PMTB yang berkembang positif yakni kendaraan sebesar 26,03%, perlengkapan lainnya sebesar 16,18%, serta kenaikan pencapaian investasi di BKPM, data BKPM sebesar 7,14%.

Reporter: Moch Febrianto