Pergerakan IHSG Akhir Hari Terkoreksi Dan Rupiah Alami Penguatan

Pergerakan IHSG (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Jumat, 07 Agustus 2026 | 14:30:55 WIB

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyudahi sesi di zona merah setelah mengalami penurunan kecil pada sesi akhir perdagangan Kamis (6/8/2026).

Melihat data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG hari ini selesai tergerus 7,43 poin atau 0,12 persen menuju level 6.343,71.

Di sepanjang sesi perdagangan, IHSG sempat diawali menguat pada level 6.379,92 dan bertolak di kisaran 6.324,06 hingga 6.388,20 sebelum akhirnya diselesaikan di bawah titik awal.

Besaran kapitalisasi pasar tercatat sampai Rp 11.094 triliun.

Geliat transaksi di pasar saham Indonesia masih dapat dikategorikan padat.

Kapasitas transaksi menembus angka 53,50 miliar saham dengan nominal perdagangan Rp 18,16 triliun.

Intensitas transaksi terdata tinggi, sementara dinamika saham menandakan 278 saham terangkat, 331 saham terperosok, dan 354 saham tidak mengalami fluktuasi.

Koreksi IHSG juga tampak pada beberapa indeks utama.

Indeks LQ45 terpangkas 0,49 persen jadi 630,86, disusul Jakarta Islamic Index (JII) yang melorot 0,68 persen menuju 380,53.

Indeks KOMPAS100 tergerus 0,28 persen jadi 832,73, ISSI terpotong 0,29 persen pada 219,16, IDX30 melorot 0,46 persen menuju 354,26, serta JII70 terpotong 0,56 persen jadi 148,28.

Di jajaran saham favorit LQ45, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menjadi peraih kenaikan paling tinggi setelah merangkak 7,92 persen.

Posisi berikutnya ditempati saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang terangkat 6,67 persen dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang melesat 6 persen.

Sebaliknya, beban jual terbesar melanda saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang merosot 3,64 persen.

Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) terpotong 2,41 persen, sementara PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) terkoreksi 2,34 persen.

Dominasi Pelemahan Sektor

Pergerakan sektoral menandakan tekanan masih menguasai sesi transaksi.

Dari 11 indeks sektoral BEI, cuma empat sektor yang sanggup bertahan pada zona hijau, sedangkan tujuh sektor sisanya diakhiri melemah menyamai koreksi IHSG.

Sektor energi menjadi penopang utama bursa seusai melesat 1,43 persen ke angka 3.068,72.

Lonjakan juga melanda sektor perindustrian yang naik 0,86 persen dan sektor transportasi yang terangkat 0,59 persen.

Sektor barang konsumsi siklikal pun mencatat kenaikan kecil sebesar 0,12 persen.

Di sisi lain, sektor properti menderita pelemahan terdalam lewat penurunan 0,70 persen.

Sektor kesehatan melorot 0,48 persen, diikuti sektor teknologi yang terpangkas 0,40 persen.

Pelemahan juga melanda sektor barang konsumsi primer, keuangan, bahan baku, dan infrastruktur, walau lewat penurunan yang lumayan terbatas.

Struktur arah sektoral tersebut memperlihatkan investor masih memproses rotasi pada saham-saham berfondasi komoditas dan industri.

Sedangkan sektor yang makin peka terhadap tingkat bunga maupun pertumbuhan ekonomi berpotensi mendapati beban.

Dinamika Bursa Asia Beragam

Di samping itu, aktivitas perdagangan di wilayah Asia berjalan bervariasi.

Shanghai Composite menjadi salah satu indeks yang mengantongi penguatan dengan merangkak 0,57 persen pada posisi 3.900,35.

Bursa Australia pun diakhiri positif seusai S&P/ASX 200 terangkat 0,47 persen jadi 9.271,60.

Sebaliknya, beban cukup besar terjadi di beberapa bursa utama Asia.

Indeks Hang Seng Hong Kong merosot 1,49 persen jadi 25.530,28, sementara Nikkei 225 Jepang melorot 0,93 persen pada posisi 65.683,26.

Penurunan paling dalam dirasakan indeks KOSPI Korea Selatan yang anjlok 4,58 persen ke titik 6.296,38.

Sementara itu, Asia Dow berfondasi dollar AS terpotong 1,04 persen menjadi 6.311,60.

Dinamika yang tidak seragam di pasar kawasan menjadikan para pelaku bursa cenderung berwaspada waktu mengambil posisi, sehingga laju IHSG ikut terhalang sampai akhir jam transaksi.

Di pasar valuta asing, nilai rupiah terhadap dollar AS malah menyudahi transaksi lewat penguatan kecil.

Angka tukar rupiah di pasar spot diselesaikan terangkat 10 poin atau 0,06 persen ke level Rp 17.923 per dollar AS.

Walaupun demikian, kedudukan tersebut cenderung lebih rendah jika dibandingkan waktu awal perdagangan.

Pada waktu awal sesi, rupiah sempat merangkak 0,11 persen menuju level Rp 17.905 per dollar AS sebelum memangkas sebagian peningkatannya mendekati jam penutupan.

Walau begitu, mata uang Garuda tetap sanggup bertahan di bawah angka psikologis Rp 18.000 per dollar AS.

Kondisi ini memberikan sedikit kelonggaran untuk stabilitas pasar keuangan dalam negeri di tengah pergerakan internasional.

Reporter: Moch Febrianto