IHSG Dibuka Naik 0,28 Persen ke 6.455,03 Usai Keputusan The Fed
WARTAFINANSIAL.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,28 persen ke level 6.455,03 pada perdagangan Kamis, 17 September 2026. Penguatan terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke 3,75-4 persen dan bursa global merespons positif keputusan tersebut.
Kenaikan suku bunga The Fed menjadi 3,75-4 persen merupakan yang pertama sejak 2023. Pasar sudah mengantisipasi langkah tersebut, sehingga tidak mengejutkan pelaku bursa.
Indeks blue chip ikut menguat pada pembukaan. LQ45 naik 0,46 persen ke 649,93, IDX30 menguat 0,53 persen ke 360,78, dan KOMPAS100 bertambah 0,33 persen ke 852,76. Hanya JII yang turun tipis 0,05 persen ke 391,90.
Sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,28 persen ke 6.436,85 pada Rabu, 16 September 2026. Analis memproyeksikan support indeks berada di kisaran 6.350-6.400 dan resistance di area 6.500-6.540.
Wall Street dan Bursa Asia Merespons The Fed
Bursa Amerika Serikat bergerak positif setelah keputusan The Fed. Dow Jones naik 0,7 persen dan S&P 500 menguat 1,1 persen, sementara Nasdaq juga mencatatkan penguatan.
Di Asia, pergerakan bervariasi. Nikkei 225 Jepang naik 0,69 persen ke 63.923, sedangkan Hang Seng Hong Kong turun 0,09 persen ke 19.743,79.
BNI Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguat ke rentang 6.541-6.581 jika mampu bertahan di atas level 6.370.
Emas Naik, Minyak Mulai Mereda
Harga emas berada di sekitar US$4.400 per troy ons, naik lebih dari 1 persen setelah sempat jatuh di bawah US$4.300 pasca pengumuman The Fed. Support emas berada di US$4.270 dengan target US$4.590.
Dollar yang lebih lemah dan harga minyak yang mereda menjadi faktor pendukung kenaikan emas. Sementara itu, Brent Crude berada di kisaran US$95-99 per barel dan WTI sekitar US$92 per barel.
Harga minyak mulai mereda setelah sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik. Penurunan harga minyak positif untuk saham konsumer dan manufaktur, tapi negatif untuk saham energi.
Rupiah Masih Tertekan
Rupiah masih tertekan terhadap dollar AS seiring kenaikan suku bunga The Fed yang membuat mata uang AS lebih kuat. Kondisi ini bisa memicu arus modal keluar dari emerging market, termasuk Indonesia.
Meski begitu, saham berorientasi ekspor seperti perkebunan dan pertambangan berpotensi diuntungkan dari pelemahan rupiah. AALI dan AADI disebut sebagai saham perkebunan yang bisa memanfaatkan kondisi ini.
Saham yang Dipantau dan Skenario IHSG
Beberapa saham yang layak dipantau hari ini menurut analis antara lain AMMN, CPIN, MBMA, dan PGEO. SIDO dan TPIA juga masuk rekomendasi analis untuk trading.
Untuk skenario bullish, IHSG berpotensi menguji resistance 6.500-6.540 jika mampu bertahan di atas 6.450. Skenario bearish melihat indeks turun ke support 6.370-6.400 jika tekanan jual meningkat, dengan range perdagangan 6.400-6.500.
Level 6.370 menjadi kunci. Jika IHSG bertahan di atasnya, tren masih positif. Penguatan tanpa volume yang cukup bisa menjadi sinyal palsu.
Proyeksi inflasi AS naik tipis dari 3,6 persen ke 3,7 persen, sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dinaikkan ke 2,3 persen. Mayoritas pejabat The Fed masih melihat kemungkinan kenaikan lanjutan hingga akhir 2026.
Pergerakan IHSG hari ini menunjukkan pasar mencerna keputusan The Fed dengan hati-hati. Kombinasi penguatan bursa global dan tekanan rupiah akan menentukan arah indeks sepanjang sesi.