Ekonom Prediksi BI Rate Tetap 5,75% Meski The Fed Naik ke 3,75%-4%

RE
Kamis, 17 September 2026
Ekonom Prediksi BI Rate Tetap 5,75% Meski The Fed Naik ke 3,75%-4%

WARTAFINANSIAL.COM — Bank Indonesia diprediksi menahan suku bunga acuan di level 5,75% pada September 2026, meski Federal Reserve menaikkan Fed Funds Rate 25 basis poin menjadi 3,75%-4% pada Rabu (16/9/2026). Alasannya, BI dinilai sudah menjalankan kebijakan pre-emptive dan level suku bunga saat ini sudah mencerminkan kondisi pasar.

Ekonom Asean UOB Enrico Tanuwidjaja menilai tidak ada alasan bagi bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga acuan bulan ini. Menurutnya, kenaikan 100 bps yang sudah dilakukan BI membuat posisi kebijakan moneter Indonesia selangkah lebih maju dibanding The Fed.

"Bank Indonesia kemungkinan stay, karena sudah price in dan sudah pre-emptive. Jadi menurut saya tidak ada alasan lagi untuk mereka tergesa-gesa, BI sudah naik 100 bps, The Fed belum mulai," kata Enrico dalam sesi wawancara, dikutip Kamis (17/9/2026).

Alasan BI Tak Perlu Ikut Jejak The Fed

Enrico menekankan keputusan The Fed menaikkan FFR ke 3,75%-4% bukan faktor yang otomatis memaksa BI menyesuaikan suku bunga. Kebijakan pre-emptive yang sudah ditempuh BI dianggap cukup untuk meredam risiko eksternal tanpa harus menambah beban biaya dana di domestik.

Pandangan ini berbeda dari asumsi pasar yang kerap mengaitkan arah BI Rate dengan pergerakan suku bunga AS. Menurut Enrico, ruang bagi BI untuk bergerak agresif sudah menyempit karena sebagian besar penyesuaian sudah dilakukan lebih awal.

Inflasi Tinggi Bukan karena Permintaan

Meski inflasi Indonesia berada di level cukup tinggi, Enrico menilai tekanan itu berasal dari gejolak sisi suplai, bukan permintaan. Karena itu, ia menegaskan persoalan tersebut tidak berkaitan langsung dengan suku bunga acuan.

Perbaikan yang dibutuhkan adalah pembenahan kondisi suplai di setiap komoditas yang mengalami gangguan. Pendekatan moneter, menurutnya, tidak akan efektif menyelesaikan akar masalah yang bersifat struktural di sisi produksi dan distribusi.

Implikasi bagi Pasar dan Pelaku Usaha

Jika BI Rate bertahan di 5,75%, yield obligasi negara dan bunga kredit perbankan berpotensi stabil dalam waktu dekat. Bagi investor, sinyal ini mengurangi ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter domestik di tengah volatilitas global.

Pelaku usaha yang bergantung pada pembiayaan berbunga tetap bisa mengandalkan biaya dana saat ini. Namun, mereka perlu mencermati risiko nilai tukar apabila tekanan dolar AS berlanjut pasca kenaikan FFR.

Keputusan resmi RDG Bank Indonesia menjadi penentu apakah prediksi Enrico sesuai dengan sikap bank sentral bulan ini.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua