The Fed Naikkan Suku Bunga 25 bps, IHSG Berpotensi Tertekan
WARTAFINANSIAL.COM — The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75 persen–4,00 persen, membawa tekanan baru bagi pasar saham Indonesia. IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini setelah ditutup turun 0,38 persen ke level 6.436,85 pada Rabu (16/9/2026).
Kenaikan suku bunga The Fed menambah beban bagi pasar saham Indonesia yang secara teknikal sedang berada dalam fase koreksi. Tekanan jual menguat pada paruh kedua perdagangan kemarin, membuat IHSG ditutup di level terendah harian meski sempat menyentuh 6.535,46.
IHSG Ditutup di Level Terendah Harian
Pada perdagangan Rabu (16/9/2026), IHSG melemah 0,38 persen ke 6.436,85. Indeks sempat menguat hingga 6.535,46 sebelum akhirnya tertekan jual menjelang penutupan.
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pola pergerakan itu menunjukkan tekanan jual justru semakin kuat memasuki paruh kedua sesi. Posisi penutupan di level terendah harian menjadi sinyal bahwa pasar belum menemukan titik keseimbangan baru.
Fed Funds Rate Naik ke 3,75–4,00 Persen
Kenaikan 25 basis poin membawa Fed Funds Rate ke kisaran 3,75 persen–4,00 persen. Bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, kebijakan moneter yang lebih ketat berpotensi menekan aset berisiko melalui penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi AS.
Risiko lain datang dari potensi keluarnya dana asing dari pasar saham emerging market. Harga minyak yang masih tinggi turut menambah kekhawatiran terhadap inflasi global.
Keputusan The Fed Dinilai Sudah Diantisipasi
Hendra menilai persoalan utama bukan semata-mata kenaikan suku bunga The Fed. Sebagian keputusan tersebut kemungkinan sudah diantisipasi pasar sebelumnya.
"Menurut saya, persoalannya bukan semata-mata kenaikan suku bunga The Fed, karena sebagian keputusan tersebut kemungkinan sudah diantisipasi pasar," kata Hendra dalam analisisnya, Kamis (17/9/2026).
Dengan begitu, arah IHSG hari ini lebih ditentukan oleh respons pelaku pasar domestik terhadap kombinasi sentimen eksternal dan kondisi teknikal indeks yang masih dalam fase koreksi.
Bagi investor ritel, pelemahan indeks membuka peluang akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat, seiring tekanan jual yang dinilai belum sepenuhnya mereda.